7. BETAPA MULYANYA HATIMU

Bu Sari mempunyai empat orang anak, dua orang laki – laki dan dua orang perempuan. Dari keempat anaknya dia telah mempunyai sebelas orang cucu. Sebagai seorang nenek Buk Sari tidak pernah pilih kasih kepada cucu-cucunya, baik cucu dari anak laki-laki maupun cucunya dari anak perempuannya. Padahal sebagai orang Minang garis keturunan adalah menurut turunan ibu, jadi cucu dari anak perempuanlah yang merupakan pewarisnya, sedangkan cucu dari anak laki-laki tidak termasuk dalam daftar ahli warisnya.
Sehingga kebiaasaan cucu dari anak laki-laki di Minangkabau tidak dengan neneknya, dan bahkan bertemupun dengan neneknya kadang hanya kalau ada acara-acara tertentu saja .
Melihat nasib Martin yang kerepotan mengurus empat orang anaknya yang masih kecil-kecil semenjak kematian istrinya, buk Sari sangat prihatin terhadap anak dan cucu-cucunya itu. Bu Sari rela meningalkan rumah, sawah dan pekerjaannya sehari – hari bersama suami sebagai pedagang sembako. Bu Sari ikut bersama Martin kekota tempat Martin bertugas dan tinggal bersama anak-anaknya.
Tiap hari jam 04.30 Wib, bu Sari sudah bangun untuk menyiapkan air panas dan sarapan pagi untuk mandi pagi cucu-cucunya sebelum kesekolah dan untuk Martin sendiri.
Setelah anak-anak pergi kesekolah dan Martin sudah berangkat kekantor, bu Sari merapikan rumah, membereskan tempat tidur anak dan cucu-cucunya, menyapu dalam rumah dan perkarangannya, mencuci dan menyetrika pakaian Martin dan anak-anaknya, memasak dan mencuci piring dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
Selain mengurus keperluan rumah bu Sari juga mempunyai tugas utama yaitu menjaga anak Martin yang nomor tiga bernama Fakhrul. Fahrul baru berumur empat tahun dan belum bersekolah. Martin berpesan kepada bu Sari agar bu Sari memperhatikan jadwal makan Fahkrul maklum anak kecil tidak mau makan kalau tidak di tawarakan dan dibujuk. Karena bermain adalah hal yang paling utama bagi anak-anak seusia Fahkrul. Dan Martin melarang anak – anaknya jajan sembarangan.
Sehingga dengan kesibukan dari subuh sampai malam hari untuk mengurus keluarga Martin membuat bu Sari hampir tidak sempat beristirahat. Tapi dengan ketulusan hatinya bu Sari secapek dan sesibuk apapun tidak pernah mengeluh. Rasa kasih sayangnya terhadap Martin dan cucu-cucunya menghilangkan rasa capek dan lelah.
Martin sendiri sebenarnya sangat kasihan melihat bu Sari yang kecapean mengurus dirinya dan anak-anak. Jika mencari pembantu untuk mengurus anak-anaknya dua empat jam susah juga. Maklum sebagai seorang duda muda takut terjadi fitnah, sehingga untuk sementara tetap bu Sari lah yang bisa membantunya.
Kadang tengah malam ketika terbangun Martin sengaja menengok bu Sari kekamarnya. Sekedar melihat apakah ada nyamuk mengganggu ibunya, apakah benar selimutnya. Betapa nyenyaknya tidur sang ibu yang kecapean setelah seharian mengurus anak-anak Martin. Walaupun wajah dan kulitnya sudah mulai keriput dimakan usia, tetapi dia tetap kuat, tegar dan tabah serta memliki hati yang tulus, ikhlas, putih dan suci seperti malaikat.
Dalam hati Martin bergumam,”Betapa mulyanya hatimu oh Ibu. Bagaimana aku dapat mengurus anak-anakku jika tidak ada dirimu membantuku. Aku bangga dan berterima kasih padamu ibu. Dari mulai mengandung, melahirkan, membesarkan, menyekolahkan dan sampai aku sudah menjadi seorang bapak dengan empat orang anak, kamu tetap aku repotkan, kasihmu tidak pernah putus. Jasamu tidak dapat aku lupakan, kaulah malaikatku”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s