My Artikel

1.KISAH SEORANG ANAK DESA

Tandikek adalah nama sebuah gunung di Propinsi Sumatera Barat yang bediri berdampingan dengan Gunung Singgalang. Di sebuah desa di kaki gunung tersebut lahir seorang anak manusia yang diberi nama Martin. Waktu kecil Martin bercita-cita ingin jadi seorang tentara, karena gagah kelihatan dengan seragam loreng dan senjata.

Setelah masuk Sekolah Dasar cita-cita Martin mulai berobah, dia ingin sekolah setinggi-tingginya walaupun sampai ke luar negeri. Ia anak yang cerdas, setiap menerima Rapor di sekolah Martin selalu mendapat juara kelas. Bahkan ketika penerimaan siswa baru di SMU Negeri I Pariaman Martin merupakan calon siswa baru dengan nem tertinggi. Menginjak kelas dua Martin mulai terserang Virus ABG dan kenakalan remaja. Biasanya Martin yang kutu buku rajin belajar dan tidak kenal keluyuran, sekarang sudah mulai mengenal rokok, ikut kebut-kebutan dengan sepeda Motor Yamaha RX King pemberian bapaknya sebagai hadiah juara Umum. Sehingga nilai rapor Martin menurun drastis dari juara kelas jadi rangking 4 dan waktu menerima rapor semester V Martin hanya masuk 10 besar.

Karena prestasinya mulai menurun, kebetulan ada kerabat nya yang dinas di Mabes Polri menawarkan kepada ibu Martin agar Martin masuk Polisi aja, lagi pula dua orang sdr Martin lainnya yang Sarjana tidak dapat masuk pegawai negeri.

Sekedar mengikuti suruhan orang tua, pada tahun 1991 Martin dengan asal-asalan melamar jadi Bintara Polri karena tidak ada cita-cita jadi Polisi. Dan diluar dugaan ternyata Martin lulus dan mengikuti pendidikan Secaba Polri di SPN Cisarua Jawa Barat.

Tamat pendidikan Martin ditempatkan di Polda Jabar. Beberapa tahun kemudian Martin menikah dengan seorang mojang priangan yang bernama Siti Azizah. Pada tahun 2002 Martin atas permintaan ibunya mengajukan pindah ke Padang karena ibunya sudah tua.

Selama kurang lebih dua belas tahun menikah dengan Siti Azizah, Martin telah di karuniai tiga orang anak satu orang perempuan dan dua orang laki-laki. Bulan Desember 2006 walaupun ikut program kontrasepsi Siti Azizah kembali hamil, tetapi kehamilan Siti Azizah dari bulan pertama bermasalah karena posisi placentanya dibawah, dan dokter menyarankan agar istirahat total.
Karena tidak merasa ada kelaianan apa-apa Siti Azizah tidak mengikuti saran dokter, dan Martin sering mengingatkan agar Siti Azizah istirahat saja dirumah. Siti Azizah selalu ikut setiap Martin dan anak- anak jalan jalan keliling kota atau pergi ketempat-tempat wisata.

Hari Rabu tanggal 4 Juli 2007 bulan kedelapan kehamilan Siti Azizah datang cobaan dari tuhan, dimana Siti Azizah mengalami pendarahan dan setelah dibawa kerumah sakit dokter menganjurkan operasi. Satu jam setelah masuk ruang operasi lahir anak keempat dari Siti Azizah yang diberi nama MARCELLIN. Karena pendarahan terus menerus semenjak dibius untuk operasi Siti Azizah tidak pernah siuman lagi sampai menghembuskan napasnya yang terakhir. Martin yang kehilangan istri tercinta sangat terpukul, menjadi duda dengan empat orang anak yang masih kecil-kecil, hari – harinya dilewati dengan kemurungan sering melamun. Walaupun seorang bintara polisi yang dididik militer Martin juga sering menguraikan air mata, di saat-saat sepi ingat nasib anaknya yang kecil-kecil harus hidup tanpa adanya seorang ibu. Apabila melihat anak-anak lain sedang bermain bersama ibunya, Martin selalu sedih, apalagi jika anak-anak ikut melihat dan berkata “ Pah enak ya kalau masih ada mama”.

Untuk mengurangi kesedihan setiap hari libur dan waktu senggang Martin sering membawa anak-anak jalan-jalan pergi ketempat rekreasi, setiap selesai solat Martin selalu berzikir dan berdoa semoga anak-anaknya diberi kekuatanketabahan. Martin pasrah atas semua yang telah terjadi karena itu adalah cobaan dari yang maha kuasa, apabila DIA berkehendak kita tidak bisa menolaknya. Dalam hati Martin berucap “Aku ikhlas Engkau mengambilnya kalau memang itu yang terbaik”.

2. KEPERGIANMU ADALAH DERITAKU

Di tepi kolam ikan dibelakang rumah dinas salah satu instansi pemerintah yang bertugas dibidang pelayanan masyarakat di kota itu, duduk seorang laki-laki diatas sebuah kursi bambu yang warnanya sudah memudar karena dimakan usia. Pandangannya tertuju kedalam kolam itu sambil sekali – kali tangannya terayun lemah melemparkan butiran-butiran kecil yang tak lain adalah makanan ikan-ikan hias berwarna warni yang sedang berebut makan didalam kolam tersebut. Wajahnya murung diliputi kesedihan, matanya sembab dan agak kemerahan, pipinya terlihat basah karena butiran air mata yang terus meleleh dari kelopak matanya, yang memperjelas bahwa dia sedang diliputi kesedihan yang mendalam.

Dia adalah Martin seorang duda dengan empat orang anak yang baru saja ditinggal mati oleh istri yang sangat dicintainya. Istri Martin meninggal akibat pendarahan saat usia kandungannya baru mencapai delapan bulan. Kehamilannya bermasalah karena posisi placenta berada dibawah dan menurut ahli medis sangat rawan terjadi pendarahan.

Sesuai anjuran dokter karena mengalami pendarahan hebat istri Martin harus menjalani operasi cesar untuk proses melahirkan. Sekitar satu jam setelah masuk ruang operasi lahirlah seorang bayi perempuan mungil yang kemudian diberi nama Marcellin. Tetapi nasib malang bagi Martin, setelah dibius untuk operasi cesar, istri yang dicintainya tidak pernah siuman lagi sampai akhirnya meninggal sekitar empat jam setelah operasi.

Semenjak kepergian istrinya hari – hari dilewati Martin dengan hampa. Hampir sebulan setelah kejadian itu Martin tidak masuk – masuk kekantor. Untung atasannya bijaksana dan memberi kesempatan kepada Martin untuk lebih dekat dengan anak-anaknya beberapa waktu. Serta kemudian Martin dipindah tugaskan kekantor cabang yang letaknya dekat dengan rumah dinas tempat Martin tinggal bersama anak-anaknya, sehingga Martin lebih mudah untuk memantau dan melihat anak-anaknya apabila ada sesuatu.

Disaat lagi sendiri bila ingat nasib anaknya yang masih kecil-kecil harus hidup tanpa kehadiran seorang ibu untuk menimang dan mengasuhnya membuat Martin selalu menangis dan tidak kuat untuk menahan kesedihan.

Suatu hari sewaktu mereka pergi ketempat rekreasi, anak ketiganya yang baru berumur 5 tahun berkata “Pah lihat anak itu main sama mamah dan papahnya, mereka senang sekali kayaknya Pah ya , coba kalau kita masih punya Mamah”. Mendegar itu Martin langsung lemas rasanya lutut tidak kuat untuk menyangga tubuhnya berdiri, tetapi Martin berusaha untuk tetap keliatan tegar dan menghibur anak-anak dengan merangkulnya sambil berkata ”Sayang, jangan sedih kan masih ada papah, kita semua sayang mamah, kita harus selalu mendoakan agar mamah diterima disi-NYA, mamah kita ada disorga, kalau kita semua rajin sholat, dan selalu berdoa, maka kita akan bertemu dengan mamah nanti di sorga, udah ya jangan sedih lagi”.

Walaupun Martin berusaha tegar air matanya tetap meleleh, dan Martin berusaha untuk cepat menyeka agar tidak keliatan menangis Tetapi salah seorang anaknya sempat melihat dan berkata “Papah menangis ya, kok ada air matanya ? Martin berusaha mengelak “ Nggak mata papah kena debu” jawab Martin sambil kembali membersihkan air matanya. Martin cepat-cepat mengalihkan perhatian anaknya sambil berkata, “Ayo kita berenang !”, sambil mengajak anak-anaknya berlari ke arah kolam renang. Dan kemudian mereka berenang bersama, sambil canda tawa, sehingga kesedihan hatinya terlupkan untuk sementara.

Sewaktu istrinya masih ada keluarga Martin selalu ceria penuh canda tawa. Setiap hari libur Martin bersama istri dan anak-anaknya pergi wisata ketempat-tempat rekreasi. Hampir semua tempat rekreasi di propinsi itu telah dikunjungi Martin bersama keluarganya. Kalau tidak pergi rekreasi hari Minggu pagi atau Minggu sore mereka pergi jalan santai atau olah raga bersama di Lapangan Wira Braja sebuah sarana olah raga di kota tersebut.

Betapapun sedih dan pilunya hati Martin, di depan anak-anak dia selalu berusaha tegar dan ceria supaya anak-anaknya tidak ikut larut dalam kesedihan. Anak-anak adalah motipasi Martin sebagai penambah kekuatan untuk tetap bisa tegar. Kebahagiaan anak-anak adalah segalanya bagi Martin, dalam hati Martin berjanji untuk tidak akan pernah menyakiti hati anak-anaknya.

3. TERIMALAH DIA

Dengan predikat seorang yang single parent, Martin mempunyai tugas rangkap mulai dari mengurus urusan rumah tangga dan anak-anaknya, juga sebagai seorang kepala keluarga yang bekerja untuk mencari nafkah.

Jam 04.30 pagi Martin sudah bangun memasak air untuk mandi anak-anaknya serta menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak sebelum berangkat kesekolah. Setelah semua selesai dan anak-anak sudah berangkat kesekolah, Martin juga berangkat pergi kekantor. Kebetulan kantor tempat Martin bekerja letaknya tidak jauh dari rumah, cukup dengan menyeberang jalan dari depan rumahnya Martin sudah sampai di Kantor, sehingga tidak membutuhkan banyak waktu untuk perjalanan.

Walaupun bisa mengurus sendiri, kadang kala Martin juga sering dibuat repot dan panik untuk mengurus anaknya yang masih kecil-kecil. Anak sulungnya baru berumur 13 tahun duduk dibangku SMP kelas 1, nomor dua baru kelas 1 SD, anak yang ke tiga baru berumur 5 tahun dan yang bungsu masih bayi yang lahir sewaktu istri Martin meninggal yang sekarang diurus oleh adik kandung Martin di kampung.

Terkadang Martin seolah kurang menerima akan takdir tuhan, didalam hati sering dia menjerit “Oh tuhan begitu beratnya cobaan yang – Engkau berikan kepadaku dan anak-anakku, mengapa disaat aku dan anak-anakku yang masih kecil-kecil sangat membutuhkannya, Kau ambil istriku dan ibu anak-anakku”,

Untuk menghilangkan kesedihannya setiap habis solat Martin sering melakukan tapakur dan berserah diri kepada tuhan, serta berdoa agar dia dan anak-anaknya diberi ketabahan, diberi kekuatan lahir dan batin, dijauhkan dari segala cobaan, dijauhkan dari segala musibah dan diberi kemudahan dalam menjalanni hidup dan mengurus anak-anak, serta memohon agar anak-anaknya dijadikan anak yang soleh taat kepada perintah agama dan orang tua.

Dengan mendekatkan diri kepada tuhan Martin sudah mulai sedikit tegar dan bisa mengikhlaskan kepergian istrinya. “Tuhan kalau memang itu jalan yang terbaik untuk kami semua, aku ikhlas kau ambil dia dari sisiku, terimalah amal ibadahnya, dan ampunilah segala dosanya, serta jadikanlah dia seorang suhada, yang meningal dijalan – Mu, yang telah mempertahankan amanah-Mu mengandung dan melahirkan seorang anak dengan mempertaruhkan nyawanya, karena hidup kami semua ditanggannu,Amiin !”.

4. ANAKKU BUTUH FIGUR SEORANG IBU

Pagi itu Martin bersama anak-anaknya ikut acara gerak jalan santai diadakan oleh pemerintah kota dalam rangka memperingati hari anti narkoba se dunia. Pukul 06.00 wib peserta sudah ramai berkumpul di depan balai kota lama, star dimulai jam 07.00 yang dilepas oleh Bapak Wali Kota selaku Ketua Badan Koordinasi Anti Narkoba untuk tingkat Kota.

Ketika Martin mau mendaftar anak-anak disuruh menunggu agar tidak ikut ketempat pendaftaran supaya tidak ikut berdesakan. Sewaktu membaca persyaratan calon peserta Martin jadi kaget, sesuai dengan tema acara “Gerak Jalan Santai Keluarga Anti Narkoba” dimana calon peserta harus berupa keluarga lengkap yaitu ada Bapak, Ibu dan anak. Martin tidak tahu bagaimana mau menjelaskan kepada anak – anaknya. Sedangkan anak-anaknya ingin sekali ikut kegiatan tersebut. Dakam hati dia bergumam, “Oh tuhan, berilah hamba – Mu ini petunjuk, anak-anakku ingin ikut gerak jalan santai ini, tapi ibu dari anaku telah Engkau ambil sehingga keluarga kami tidak lengkap, apakah yang harus hamba lakukan ya Allah…supaya anak-anakku tidak sedih dan kecewa”. Beberapa saat dia tertegun memikirkan jalan keluar dari kesulitan tersebut.

Rupanya doa Martin di kabulkan oleh tuhan, didepan Martin ada seorang perempuan berpakaian kaos olah raga yang tak lain masih sepupunya bernama Fitri.

“Hai..Fitriii !’’ Martin menyapa setengah berteriak.

Fitri yang waktu itu belum melihat bahwa ada Martin didepannya. Setelah melihat ke arah Martin, “Abang.. lagi ngapain, mana anak-anak?”.

“Tadinya mau ikut acara gerak jalan santai, tuh anak-anak menunggu disitu”, jawab Martin sambil menunjuk ke sisi lapangan.

“Lalu kenapa ?“ tanya Fitri melanjutkan.
“Nggak bisa karena syarat peserta harus keluarga lengkap yaitu Ibu, ayah dan anak, sedangkan kamu tahu sendiri bagaimana keadaan keluargaku”. Jawab Martin sambil tertunduk. “Aku bingung Fit, anak-anak pingin ikut, harus bagaimana aku menjelakannya supaya anak-anak tidak sedih” Martin melanjutkan.
“Udah aja Bang, biar aku aja ganti ibunya Abang daftar aja, lagi pula aku juga pingin ikut !” usul Fitri.
“Syukurlah kalau begitu biar Abang daftar dulu, kamu temui anak-anak disitu!” kata Martin sambil pergi ketempat pendaftaran.

Fitri adalah seorang dosen disebuah Universitas terkenal di Kota Padang. Dia sudah kenal dan dekat juga dengan anak-anak Martin. Waktu itu Fitri sedang mengikuti seminar di kota tempat Martin bertugas dan tinggal bersama anak-anaknya.

Setelah sampai di dekat anak-anak Martin.
“Hallo semua”, fitri menyapa.
“Eh..tantee”. kata anak-anak spontan sambil menyalami Fitri.
“Tante mau ikut gerak jalan santai juga ya” tanya anak-anak Martin.
“Iya, boleh tante ikut gabung kalian, tante sendiri nih ? tanya Fitri sambil basa-basi sama anak-anakl.
“Mau, mau sekali tante’, jawab anak-anak kompak.

Hari itu mereka jadi ikut gerak jalan santai, sambil bercanda tawa, anak-anak senang karena ada tantenya, seolah-olah manja sama seperti ke ibu kandungnya. Habis sama siapa lagi dia mau bermanja-manja karena ibunya sudah meninggal. Fitri sangat menyayangi anak-anak Martin. Walaupun tidak menang dalam acara tersebut, bagi anak-anak itulah hari yang paling bahagia. Hari-harinya yang selama ini dilewati dengan kesedihan semenjak ibunya meninggal jadi terlupakan dan senang kembali. Anak-anak bisa mencurahkan segala isi hatinya sama Fitri, dan Fitri juga pandai mengambil hati anak-anak sebagai audien yang baik menerima keluhan anak – anak serta sesekali menghiur dengan kata – kata yang manis dengan jiwa keibuannya.

Tetapi disaat malam tiba kesepian dan kehangatan yang dirasakan dari pagi sampai sore kembali hilang bersama dengan kepergian sang tante yang pulang kepenginapannya. Hari itu ada lah hari terakhir Fitri melaksanakan seminar di kota itu, Senin pagi dia sudah kembali ke Padang untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai dosen.

Anak-anak kembali kehilangan tempat mengadu dan tempat bermanja serta berkeluh kesah. Dia membutuhkan figur seorang ibu yang bisa mendampinginya serta mau mendengarkan celotehan dan ungkapan keinginannya. Kepada bapaknya anak-anak kurang terbuka, mungkin mereka khawatir kalau semua itu akan membuat bapaknya tambah sedih. Melihat itu Martin jadi terharu, batinnya menjerit menahan kesedihan.

“Oh tuhan anakku membutuhkan figur seorang ibu, sebagai pengganti ibunya yang telah tiada, tidak mungkin aku menyuruh Fitri tetap disini menemani anak-anakku karena dia juga punya tugas sebagai seorang dosen dan sebagai seorang ibu untuk anak-anaknya”, jeritan Martin dalam hatinya.

“Apakah ada orang lain yang mau menerima dan menyayangi anakku seperti menyayangi anak kandungnya sendiri, yang bisa diterima juga oleh anakku Ya Allah,” doa Martin dalam hatinya.

Melihat betapa senang anak-anaknya dengan kehadiran tantenya yang juga sangat menyayanggi anak-anak Martin, maka Martin sangat berharap dan berdoa semoga tuhan menghadirkan sosok seorang ibu yang bisa menerima dan menyayangi anaknya seperti anak kandung sendiri dan dapat pula diterima dan disayangi oleh anak-anaknya.

5. KEMARAHANKU ADALAH PENYESALANKU

Selesai sholat magrib adalah jam belajar bagi anak-anak Martin. Dari mulai azhan magrib berkumandang televisi harus dimatikan. Martin dan anak-anak sholat berjamaah bersama. Selesai sholat anak-anak siap untuk belajar dan mengambil buku masing-masing. Sebagai orang tua tunggal Martin bertindak sebagai guru prifat untuk anak-anaknya.

Dalam urusan pelajaran Martin sangat keras mendidik anak-anaknya. Mungkin karena sifatnya dulu waktu sekolah adalah seorang anak yang pintar dan kutu buku sehingga setiap menerima rapor selalu juara kelas. Sampai sekarang walau sudah hampir dua puluh tahun yang lalu semua tugas PR anaknya yang paling besar yang duduk dibangku SMP kelas 1 bisa dikuasainya. Marlinda Santi sangat senang punya papah yang bisa sekaligus sebagai guru frivatnya dirumah. Setiap ada kesulitan didalam tugas PR nya, sang papah siap dan bisa membantunya.

Martin yang pintar dan cepat menangkap pelajaran waktu sekolah bila telah menerangkan dua, tiga kali kepada sang anak, tetapi masih belum ngerti juga membuat Martin gampang marah dan mengomeli anaknya.

“Masak belum mengerti juga sih, udah diterangkan berulang-ulang, makanya waktu belajar pikirkan pelajaran donk, jangan pikirannya main aja !’ kata Martin kalau udah kesal.

Anak-anak langsung sedih dan tidak jarang sampai menangis. Sehingga tujuan Martin tadinya ingin anaknya pintar cepat mengerti malah jadi nangis dan terganggu belajarnya.

Melihat itu akhirnya Martin merasa bersalah sendiri, apalagi ingat anaknya udah tidak punya ibu. Dalam hati Martin bergumam, “ Astagfirruhlah hal a’zim, mengapa aku kasar kali memarahi anak-anak, kasihan anak-anakku jadi sedih dan menangis, apalagi dia sudah tidak punya ibu ”.

Akhirnya Martin pun meminta maaf sama anak-anaknya. “Maafkan papah ya, papah sangat menyayangimu dan tidak ingin menyakitimu. Semua itu papah lakukan karena papah ingin anak papah jadi anak yang pintar berguna bagi bangsa dan negaranya serta berbhakti kepada orang tua…., sekali lagi maafkan papah !” kata Martin sambil merangkul anak-anaknya. Tidak jarang air mata Martin pun ikut menetes membasahi pipinya. Dalam hati Martinpun berjanji untuk tidak memarahi anaknya lagi.

“Oh tuhan berilah aku kesabaran dan kekuatan dalam mendidik anak-anakku, aku tidak ingin memarahinya bila itu tidak perlu sekali karena kemarahanku adalah penyesalanku ” kata jeritan hati Martin.

6. AKIBAT PERBEDAAN BUDAYA

Minangkabau adalah salah satu suku bangsa melayu di Indonesia yang tinggal seluruh propinsi Sumatera Barat dan di daerah lain sekitarnya. Disini tumbuh dan berkembang suatu budaya yang sangat unik berbeda dengan lain dimana disini garis keturunan diambil dari garis ibu (Matrilineal).

Untuk mempermudah mengetahui ranji atau silsilah keturunan seseorang diberi suku yang diturunkan dari ibu. Begitu pula dalam permasyalahan warisan harta pusaka maupun gelar kehormatan suatu kaum juga diambil dari turunan ibu. Sehingga harta pusaka orang Minangkabau pada umumnya dikuasai oleh anak perempuan dan anak laki – laki hanya mengawasi harta tersebut agar tidak jatuh ketangan orang lain.

Akibat perbedaan budaya Minangkabau dengan daerah – daerah lain di Indonesia ini menimbulkan berbagai dampak baik yang positif maupun yang negatifnya.

Salah satunya yang menrima dari perbedaan budaya tersebut yaitu keluarga Martin. Martin adalah turunan orang Minangkabau asli yang kedua orang tuanya berasal dari Pariaman yang memiliki adat yang sangat kuat unik.

Garis hidup yang tidak disangka – sangka sebelumnya bahwa dia akan meningggalkan Ranah Minang dan menginjak pulau Jawa. Setelah diangkat jadi pegawai negeri Martin ditempatkan dinas di Bandung. Tanah kelahiran, orang tua serta sang pujaan hatinya harus rela ditinggalkan.

Sebelum pergi orang tuanya berpesan, “Nak jangan lama kali di dinas di Pulau Jawa, cepat urus pindah kekampung”. “Hati-hati dan pandai-pandai menjaga diri di negeri orang!’.

“ Ya bu, nasehat ibu akan saya ingat dan akan saya usahakan untuk cepat bisa pindah kekampung ”, jawab Martin.

Tetapi dengan berjalannya waktu jauhnya jarak yang memisahkan akhirnya kisah cinta Martin juga ikut memudar, merenggang dan putus dengan gadis kembang desa di kampung halamannya.

Sekitar lima tahun lebih dinas di pulau Jawa Martin pun terpikat dengan seorang mojang priangan yang bekerja sebagai manajer keuangan di sebuah persuhaan Garmen terbesar di Kota Bandung.

Setelah sudah punya anak dua Martin menyuruh istrinya berhenti bekerja, agar anak-anaknya lebih mendapat perhatian. Walaupun bekerja sendiri Martin masih sanggup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebagai sebuah keluarga kecil dan sederhana, ekonomi keluarga Martin termasuk sudah cukup baik. Meskipun tidak terlalu besar, di Bandung Martin sudah punya rumah sendiri.

Karena ibunya sudah tua dan selalu berpesan agar Martin pindah ke kampung, akhirnya Martinpun pindah tugas ke Padang bersama keluarganya.

Untuk menghemat pengeluaran Martin memanfaatkan fasilitas kantor dan tinggal di rumah dinas. Tahun pertama di Padang, istri nya hamil lagi dan melahirkan anak ke tiga seorang bayi laki-laki dengan operasi cesar.

Lima tahun kemudian walaupun ikut program kontrasepsi, istri Martin telat datang bulan, dan setelah dicek ternyata hamil. Tetapi sayang kehamilannya bermasyalah sampai akhirnya istrinya meninggal dunia karena mengalami pendarahan saat melahirkan anak ke empat dengan operasi sesar.

Setelah istrinya meninggal baru Martin merasakan akibat perkawinannya dengan seorang perempuan yang berbeda adat dan budaya dengan orangtuanya.

Martin bingung sekarang anaknya ikut suku bangsa apa. Ikut dia tidak bisa karena sesuai adat Minangkabau anak harus ikut suku ibunya (Matrilineal). Sedangkan kalau ikut ibunya juga tidak bisa, karena menurut adat sunda yang dianut keluarga ibunya dimana anak menurut garis keturunan ayah (Patrilineal).

Dalam hati Martin mengeluh,”Oh tuhan, malangnya nasib anakku, menurut adat keluargaku anakku adalah orang sunda, sedangkan menurut keluarga almarhumah ibunya dia adalah orang Padang”. “Apakah anakku harus kubuat suku Krakatau yang terletak ditengah selat Sunda antara Jawa dan Sumatera”.

Walaupun tidak mengharapkannya, secara adat anak Martin tidak mendapat warisan harta pusaka baik dari turunan Bapaknya maupun dari turunan ibunya.

“Inilah cobaan yang kuterima karena aku kurang mengindahkan nasehat ibu, dan ini lah akibat dari perkawianan yang berbeda budaya”, pikir Martin dalam hati.

Oleh karena itu Martin berpesan kepada seluruh pembaca :

Pikirkanlah dulu manfaat dan muradatnya, untung ruginya sebelum memutuskan sesuatu agar tidak terjadi penyesalan di akhir nanti.

7. BETAPA MULYANYA HATIMU

Bu Sari mempunyai empat orang anak, dua orang laki – laki dan dua orang perempuan. Dari keempat anaknya dia telah mempunyai sebelas orang cucu. Sebagai seorang nenek Buk Sari tidak pernah pilih kasih kepada cucu-cucunya, baik cucu dari anak laki-laki maupun cucunya dari anak perempuannya. Padahal sebagai orang Minang garis keturunan adalah menurut turunan ibu, jadi cucu dari anak perempuanlah yang merupakan pewarisnya, sedangkan cucu dari anak laki-laki tidak termasuk dalam daftar ahli warisnya.
Sehingga kebiaasaan cucu dari anak laki-laki di Minangkabau tidak dengan neneknya, dan bahkan bertemupun dengan neneknya kadang hanya kalau ada acara-acara tertentu saja .
Melihat nasib Martin yang kerepotan mengurus empat orang anaknya yang masih kecil-kecil semenjak kematian istrinya, buk Sari sangat prihatin terhadap anak dan cucu-cucunya itu. Bu Sari rela meningalkan rumah, sawah dan pekerjaannya sehari – hari bersama suami sebagai pedagang sembako. Bu Sari ikut bersama Martin kekota tempat Martin bertugas dan tinggal bersama anak-anaknya.
Tiap hari jam 04.30 Wib, bu Sari sudah bangun untuk menyiapkan air panas dan sarapan pagi untuk mandi pagi cucu-cucunya sebelum kesekolah dan untuk Martin sendiri.
Setelah anak-anak pergi kesekolah dan Martin sudah berangkat kekantor, bu Sari merapikan rumah, membereskan tempat tidur anak dan cucu-cucunya, menyapu dalam rumah dan perkarangannya, mencuci dan menyetrika pakaian Martin dan anak-anaknya, memasak dan mencuci piring dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
Selain mengurus keperluan rumah bu Sari juga mempunyai tugas utama yaitu menjaga anak Martin yang nomor tiga bernama Fakhrul. Fahrul baru berumur empat tahun dan belum bersekolah. Martin berpesan kepada bu Sari agar bu Sari memperhatikan jadwal makan Fahkrul maklum anak kecil tidak mau makan kalau tidak di tawarakan dan dibujuk. Karena bermain adalah hal yang paling utama bagi anak-anak seusia Fahkrul. Dan Martin melarang anak – anaknya jajan sembarangan.
Sehingga dengan kesibukan dari subuh sampai malam hari untuk mengurus keluarga Martin membuat bu Sari hampir tidak sempat beristirahat. Tapi dengan ketulusan hatinya bu Sari secapek dan sesibuk apapun tidak pernah mengeluh. Rasa kasih sayangnya terhadap Martin dan cucu-cucunya menghilangkan rasa capek dan lelah.
Martin sendiri sebenarnya sangat kasihan melihat bu Sari yang kecapean mengurus dirinya dan anak-anak. Jika mencari pembantu untuk mengurus anak-anaknya dua empat jam susah juga. Maklum sebagai seorang duda muda takut terjadi fitnah, sehingga untuk sementara tetap bu Sari lah yang bisa membantunya.
Kadang tengah malam ketika terbangun Martin sengaja menengok bu Sari kekamarnya. Sekedar melihat apakah ada nyamuk mengganggu ibunya, apakah benar selimutnya. Betapa nyenyaknya tidur sang ibu yang kecapean setelah seharian mengurus anak-anak Martin. Walaupun wajah dan kulitnya sudah mulai keriput dimakan usia, tetapi dia tetap kuat, tegar dan tabah serta memliki hati yang tulus, ikhlas, putih dan suci seperti malaikat.
Dalam hati Martin bergumam,”Betapa mulyanya hatimu oh Ibu. Bagaimana aku dapat mengurus anak-anakku jika tidak ada dirimu membantuku. Aku bangga dan berterima kasih padamu ibu. Dari mulai mengandung, melahirkan, membesarkan, menyekolahkan dan sampai aku sudah menjadi seorang bapak dengan empat orang anak, kamu tetap aku repotkan, kasihmu tidak pernah putus. Jasamu tidak dapat aku lupakan, kaulah malaikatku”.

8. DAPATKAH KAU MENERIMANYA

Dalam perjalanan ke kekampung Hand phone Martin berdering, Martin tidak mengenal nomor dari pemanggil tersebut, setelah diangkat terdengar suara lembut seorang perempuan diseberang sana “Hallo, saya Shelly yang di FS itu, ini Martin ya, apa kabar ?”.
Setelah mengingat – ingat Martin menjawab “Oh ya aku ingat, Bu dosen Muhammadyah itu kan ?,kabarnya baik aku lagi dalam perjalanan ke Pariaman mau pulang kampung, dan Shelly dimana, masih di kampus ya ?
“Iya, aku lagi nunggu hujan reda mau pulang, didepan kampus, tiba-tiba ingat Martin, maka aku coba telepon aja, gak menganggu kan ?” jawab Shelly lagi.
“Tidak, pada hal tadi aku lagi ingat kamu juga, rencananya tadi aku juga mau nelepon kamu tapi gak jadi karena keburu berangkat”, jawab Martin.
Shelly adalah seorang dosen pada suatu Universitas swasta yang ada di kota yang sama tempat Martin bertugas sebagai pelayanan masyarakat disebuah instansi pemerintah di kota tersebut.
Karena asik ngobrol dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan mengendara mobil sambil menelepon dalam keadaan cuaca hujan lebat jalan licin, maka Martin sengaja memberhentikan mobilnya dulu ke pinggir.
Semenjak itu Martin sering telepon-teleponan dan saling curhat dengan Shelly. Shelly menyukai Martin yang lebih dewasa, dan Shelly merasa aman bila berada di samping Martin. Shelly mau menerima Martin apa adanya, walaupun Martin berstatus seorang duda beranak empat. Martin pun menerima Shelly dengan segala kelebihan dan kekurangannya, apalagi Martin sangat mengharapkan fiur seorang ibu untuk anak-anaknya yang masih kecil-kecil.
Tapi didalam hatinya Martin tetap berpikir apakah Shelly benar-benar mau menerima Martin dan anak-anaknya yang berjumlah empat orang. Baru menikah langsung dapat anak empat orang. Sebaliknya apakah anak-anaknya mau menerima Shelly sebagai pengganti ibunya yang telah tiada.

9. BILA AKU JATUH CINTA

Allahu Rabbi aku minta izin..
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untukmu berkurang
Hingga membuat hati lalai akan adanya engkau

Allahu Rabbi….
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhi lah hatiku dengan –
bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biarkan rasaku pada-Mu tetap utuh

Allahu Rabbi…
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang,
yang hatinya penuh dengan Kasih-MU
dan membuat aku semakin mengagumi-Mu

Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukan dan satukanlah kami dalam suatu ikatan
Dan lindungilah kami dengan cinta dan kasih-Mu

Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah…
Seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau Palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku Cinta-Mu
Cinta yang ga pernah pupus oleh waktu..
Aamin…

10. SUDAH TERLANJUR SAYANG

Sepulang kantor Martin asik bercanda sama anak-anaknya sambil main FS. Tiba-tiba Hand phonenya berdering, setelah diangkat ternyata Shelly yang menelephone.
“ Assalamuallaikum “, suara Shelly diseberang sana.
“ Waallaikum salam “, jawab Martin.
“ Bisa gak minta tolong menjemput saya ke kampus, susah nih mau bawa barang banyak, hari hujan lagi ?’, kata Shelly memohon.
“ Ya, saya jemput, tunggu ya !” jawab Martin.
Mengetahui Martin mau keluar pakai mobil anak-anaknya bertanya.
“Mau kemana, Pah?. “Boleh ikut donk!” pinta anak – anak Martin.
Martin bingung apa alasan yang mau dikemukakan sama anaknya, kalau dibawa nanti anaknya menanyakan siapa yang dijemput, akhirnya Martin berdalih adik teman kantornya yang mau pulang karena hujan minta tolong diantar ke mobil.
“ Papah mau menjemput Tante Sherlly adik OM Beni teman kantor papah”. Jawab Martin.
Anak-anak Martin sudah kenal dengan Beni karena semenjak ibunya meninggal sering dibawa oleh Martin kekantor. Dan kebetulan Beni satu daerah dengan Sherlly tetapi tidak saling mengenal.
Setelah itu untuk mendekatkan dengan Sherlly Martin sering membawa anak-anaknya bila mau ketemuan, dan nampaknya anak-anak Martin menyukai Sherlly dan Sherlly pun bisa mengambil hati anak-anak Martin sehingga mereka jadi cepat akrab. Padahal sebelum kenal Sherlly setiap ada yang ngomong masyalah perempuan dengan Martin, anak-anaknya selalu ngambek seolah tidak boleh dekat papahnya dengan perempuan.
Setiap hari libur Martin dan anak-anak mengajak Sherli pergi tamasya. Mereka sudah saling menyayangi, setiap hari anak- anak Martin pingin main ketempat kost Sherlly yang tidak berapa jauh dari rumah dinas tempat Martin tinggal bersama anak-anaknya.
Suatu hari gara-gara masalah kecil Martin dan Sherlly pernah berselisih paham. Ada beberapa sifat Sherlly yang kurang disukai Martin. Sherlly paling suka mendiamkan suatu masalah yang disampaikan oleh Martin yang seharusnya dibahas untuk kebaikan bersama.
Tapi Sherlly malah minta tidak mau bertemu beberapa waktu dengan alasan tidak mau terlalu ditekan oleh Martin. Cara Sherlly menjawabnya membuat Martin lebih tersinggung dengan mengatakan, “Aku tidak mau bertemu sampai hatiku baik, dan jangan hubungi aku”.
Menurut Martin, sifat Sherlly yang mendiamkan masalah dan menjauh serta tidak mau bertemu bila ada kesalah pahaman itu akan jadi bumerang nanti didalam rumah tangga.
Sebelum menikah tidak terima dinasehati menjauh tidak mau bertemu dan masalah diamkan saja tidak diselesaikan, dan setelah berumah tangga bila tidak terima dinasehati pergi dari rumah. Itu adalah sifat tidak baik bagi seorang istri yang sangat dibenci oleh agama, dan juga sangat tidak diinginkan oleh Martin terjadi didalam keluarganya.
Mungkin maksud Sherlly hanya sekedar untuk menetralisir hatinya untuk beberapa waktu. Dan Sherlly tidak menyangka sifat dan kata-katanya seperti itu yang dianggap biasa saja bisa berakibat fatal terhadap hubungannya dengan Martin.
Bagi Martin kata-kata Sherly tersebut adalah penghinaan pada dirinya. Martin merasa dirinya seolah sebagai benalu yang menumpang hinggap di suatu pohon, yang setiap saat bisa dibuang begitu saja karena tidak dibutuhkan. Walaupun sudah terlanjur sayang sama Sherly, dan anak-anaknya juga sudah menganggap Sherlly seperti keluarga sendiri dan saling menyayangi. Karena harga dirinya merasa dilecehkan dengan gampangnya oleh Sherlly, membuat Martin jadi emosi. Rencana pernikahan yang sudah dirancangnya bersama Sherlly terancam batal.
Meskipun berat hatinya untuk berpisah dengan Sherlly, demi harga dirinya Martin berniat untuk menjauhkan anak-anaknya dari Sherlly, dan dia sendiri berjanji tidak akan menemui Sherlly sebelum Sherlly minta maaf serta berjanji tidak mengulangi kesalahan yang sama dan berusaha untuk memperbaiki semuanya.
Karena kesal dan emosi Martin sempat agak kasar ngomong sama anaknya sewaktu anak-anaknya minta pergi ketempat Sherlly terus.
“ Papah tidak mau kerumah tante Sherlly, dia gak ingin kita datang karena dia sibuk dan tidak mau diganggu, kamu semua pada nakal!” kata Martin kepada anak-anaknya sambil bikin alasan Sherlly lagi sibuk supaya anaknya tidak bertanya-tanya kenapa papahnya tidak mau kesitu.
Setiap habis sholat pun Martin berdoa “Ya Allah ya tuhanku, kalau keberadaannya hanya akan menyakitiku dan anak-anakku, jauhkan lah dia dari kehidupan keluargaku, tetapi kalau kehadirannya dapat penambah kebahagiaan keluargaku satukanlah kami, janganlah ada perselisihpahaman, jauhkanlah sifatnya yang tidak aku dan anak-anakku sukai, dan jauhkanlah sifatku yang tidak dia senangi, satukanlah kami dalam suatu rumah tangga yang bahagia, mawwadah warrahmah serta jauh dari pertengkaran…Aminnnnnnnnnnnnnnn.
Malam itu juga sebelum Martin tertidur, hand phonenya berdering, terdengar suara lembut yang sudah sangat dikenalnya yaitu tidak lain adalah Sherlly. Sherlly menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akanmengulangi lagi dan berusaha untuk memperbaiki sifat-sifatnya yang kurang baik dimata Martin. Sherlly mengatakan sangat tidak menduga kalau hal itu sampai berakibat sepatal itu pada Martin, bahkan Sherlly sempat bilang sama Martin bahwa dia mungkin tidak akan menikah selamanya kalau sampai Martin menggagalkan rencana pernikahannya. Malam itu menjadi malam yang sangat mengharukan bagi mereka berdua walau hanya bertemu melalui hand phone, dan keduanya sama – sama menangis mengucurkan air mata.

11. KAU

Kaulah rembulan
Kaulah yang kuharapkan
Kaulah cahaya masa depan

Tapi…

Kau kadang menjengkelkan
Kau kadang membuat aku gak karuan
Kau kadang membuat aku gak berpendirian
Kau kadang membuat aku ingin melupakan

Sekarang kau baik
Besok kau jahat
Sekarang kau manis
Besok kau menjemukan

Kenapa..

Kenapa kau tak selalu seperti yang kuinginkan
Kenapa kau tak selalu seperti yang kuimpikan
Kenapa kau tak selalu seperti yang kudambakan
Kenapa kau tak selalu seperti yang kuharapkan

Hilangkanlah..

Hilangkanlah sifatmu yang tak ku sukai
Hilangkanlah sifatmu yang tak ku senangi
Hilangkanlah sifatmu yang tak ku ingini
Hilangkanlah sifatmu yang tak ku kuridoi

Kadang aku menyukaimu
Kadang aku membencimu
Kadang aku mencintaimu
Kadang aku ingin meninggalkanmu

Mengapa…

Mengapa terjadi pada diriku
Mengapa terjadi pada jalan hidupku

Hanya tuhanlah yang tahu
Kupasrahkan hidupku bersama Mu

4 Balasan ke My Artikel

  1. ismari yanti berkata:

    ceitanya sangat bagus saya berharap bahwa Martin dan Sherlly akhirnya menikah dan hidup bahagia bersama anak mereka

  2. Muhammad kasirun berkata:

    Gua numpang email orang lain nih. Jhon yang gua baca itu kisah lu ya ? hebat lu bisa jadi singelparent tapi jangan trlalu lama kasihan tuh anak-anak.

  3. Teh Okky berkata:

    Kisah yang mengharukan…..

    Semoga MArtin menemukan pengganti ibu bagi anak2nya…Tentu saja yang sayang sama anak2 nya
    Amiin..Amiin…

    Tulisannya panjaaaang..sebetulnya bisa dibuat lebih singkat loh… Tapi secara keseluruhan, udah lebih dari cukup….Teruskan bakat menulisnya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s