MUTIARAKU YANG HILANG DULU(RMJ)

Aku, panggil saja “Salman”, berusia 39 tahun dilahirkan di sebuah pulau di seberang pulau Jawa, tepatnya di kota Lahat Propinsi Sumatera Selatan. Aku lahir sebagai anak ketiga dari 5 besaudara. Kakakku yg pertama dan kedua, laki2, sedangkan yang ketiga dan keempat perempuan. Keluarga kami termasuk keluarga cukup terpandang di daerah kami, karena kakek adalah tokoh masyarakat yang disegani oleh masyarakat setempat.

Masa kecil aku lalui dengan penuh kebahagian, dengan keluarga lengkap yang saling menyayangi. Ayahku seorang PNS yang bertugas di Kota Baturaja yang letaknya lumayan jauh dari tempat kelahiranku. Baturaja merupakan kabupaten terakir dari propinsi Sumatera Selatan yang letaknya berbatasan langsung dengan propinsi Lampung. Sedangkan ibuku seorang wiraswasta dan mengurus usaha di kota kelahiranku.

Dari kecil aku ikut dengan ayah ke Baturaja dan kami tinggal di salah satu rumah dinas milik instansi tempat ayahku bekerja. Tinggal bersama ayah terpaksa aku harus belajar memasak dan mencuci pakaian sendiri. Hal ini membuat aku jadi lebih mandiri karena walaupun anak laki-laki aku bisa memasak dan mencuci. Setiap hari Sabtu sore kami pulang ke Lahat dan kembali lagi ke Baturaja pada hari Minggu sorenya.

Disekolah aku termasuk anak yang berprestasi dan setiap menerima rapor sejak SD sampai SMA aku selalu mendapat juara kelas. Ketika tamat SMP nilai ujianku sangat memuaskan dengan nem tertinggi di sekolahku. Sewaktu mendaftar di SMA, namaku terletak pada urutan teratas. Sebagai juara kelas aku tentu saja banyak disenangi oleh teman-teman baik yang cowok maupun cewek. Terutama bila ada PR atau mau mengerjakan tugas lainnya yang diberikan oleh guru, mereka selalu mengandalkan aku untuk membahasnya.

Ketika menginjak kelas 1 SMA  aku dekat dengan seorang cewek anak dari seorang pejabat di Kota Baturaja, sebut saja namanya Vanny. Meskipun tidak sekelas setiap hari sepulang sekolah kami selalu main dan belajar bersama. Kebetulan rumah ku dan rumah Vanny bertetangga sehingga kami punya banyak kesempatan untuk main bersama.

Orang tua Vanny meskipun seorang terpandang sangat berjiwa besar, mereka tidak membedakan status social dalam melihat orang. Walaupun hanya anak seorang pegawai rendahan, dia tidak mempermasalahkan aku berteman dengan anaknya. Sebagai anak rantau aku dah menganggap orang tua Vanny sebagai orang tua sendiri, dan bahkan tidak jarang bila malas memasak aku minta nasi dan makan dirumah Vanny.

Tetapi pada saat-saat tertentu rasa minderku tetap datang, dan timbul ketidak beranianku untuk dekat-dekat dengan Vanny. Terutama saat disekolah ketika Vanny main dengan teman-teman sekelasnya yang juga sama-sama dari keluarga yang kaya dan terpandang. Anehnya Vanny pun seolah-olah asyik aja bermain bersama teman-temannya itu dan tidak ingat padaku. Aku seakan dilupakan begitu saja, dan bukan siapa-siapa baginya. Hal ini membuat aku sedih, sakit hati dan kecewa. Kadang aku berpikir bahwa Vanny menganggapku hanya sebagai teman biasa yang hanya dibutuhkan, apabila ada kesulitan dalam belajar dan mengerjakan PR.

Dalam keadaan tersebut, selama disekolah aku hanya terpaksa main dengan teman-teman sekelasku. Perasaanku sedikit terhibur karena ada salah seorang teman sekelasku yang sangat baik dan selalu memperhatikanku, sebut saja namanya  Femy. Setiap hari Femy selalu bersamaku, dimana ada aku disana ada Femy. Hal ini membuat semua orang termasuk guru-guru mengira aku dan Femy pacaran, padahal waktu itu kami tak lebih dari teman dekat saja.

Karena rumah ku dan rumah Femy satu arah, maka setiap pulang sekolah kami selalu jalan bersama sambil bercanda. Saking asiknya jarak 3 km dari sekolah menuju rumah dengan jalan kaki terasa dekat. Sambil berjalan dan bercanda kami makan coklat yang selalu tersedia di tas Femy sebagai cemilan favoritnya.

Sehubungan ayahku pindah tugas ke Lahat kota kelahiranku, mengakibatkan aku mau tidak mau juga harus ikut pindah. Apalagi hubunganku dengan Vanny sudah semakin renggang sehingga membuat aku tidak keberatan diajak pindah. Meskipun begitu kedekatanku dengan Femy diakhir-akhir kepindahanku membuat hatiku terasa berat juga untuk pindah. Tapi karena menuruti anjuran orang tua akhirnya aku turuti saja untuk pindah sekolah. Saat hari terakir sekolah Femy memberikan kado perpisahan yang setelah ku buka ternyata sebuah T-shir lengan panjang bergaris-garis dengan selembar kertas yang bertuliskan kata-kata perpisahan. Dan pada saat itu aku juga memberikan kado kecil yang berisi sapu tangan dan selembar kertas bertuliskan kata-kata mutiara.

Setelah pindah sekolah entah mengapa hatiku jadi selalu gundah. Sepertinya raga dan pikiranku berada di dua tempat yang berbeda. Aku selalu ingat Femy dan rasa rinduku semakin menjadi, apakah aku jatuh cinta sama dirimu Femy???

Karena rasa rindu yang sudah tidak bisa di bendung, pada hari Minggu beberapa waktu setelah pindah, aku pergi mencari Femy ke sanggar tari tempat Femy belajar tari. Menerima kedatanganku Femy sangat senang dan surprise, kami jalan keluar setelah minta ijin guru pembimbing sanggar. Tidak kusia-siakan kesempatan tersebut, saat santai berduaan aku ungkapkan perasaanku kepadanya, bahwa aku suka dan cinta padanya. Tampa menunggu lama Femy pun menjawab dan berterus terang bahwa dia juga sangat menyukaiku dan menerima cintaku. Sejak saat itu resmilah aku dan Femy pacaran.

Femy yang supel, bisa membawa diri dan pandai menyenangkan hati orang, di terima dengan baik oleh orang tuaku saat dia berkunjung kerumah orang tuaku. Ibuku sangat sayang sama dia, bahkan pernah suatu hari ketika Femy datang gak boleh pulang sama ibu dan disembunyikan sandalnya.

Selama pacaran dengan Femy, kami sering main ke objek-objek wisata pada hari-hari libur. Walaupun beda kota kami sering ketemuan dan janjian serta kemudian pergi bersama. Saat aku camping bersama dalam rangka study tour Femy berusaha untuk datang menemuiku bersama dengan teman-teman dekatku sewaktu satu sekolah dengannya dulu. Bahkan Femy pun pernah kubawa menginap di tempat kost ku sewaktu kembali dari pergi lebaran kerumah salah seorang guru. Karena kemalaman cuaca buruk dan hujan deras, serta tidak ada kendaraan kita terpaksa harus menginap. Untung ibu kost orangnya baik dan pengertian sehingga Femy diperbolehkan ikut menginap dengan catatan tentu harus beda kamar denganku.

Setamat SMA salah seorang kerabat menawarkan aku masuk ABRI, kebetulan dia bertugas di bagian personil Mabes TNI dengan pangkat Kolonel. Karena nilaiku sejak pindah sekolah selalu turun dari semester ke semester maka aku bersedia ikut mendaftar dan didukung juga oleh orang tua. Apalagi orang tuaku sangat mendukung aku masuk TNI, melihat dua orang kakakku yang sarjana hanya jadi pengangguran.

Singkat cerita setelah melamar dan lulus seleksi dan masuk pendidikan aku ditempatkan dinas di Bataliyon Infanteri 403 Yogyakarta. Sungguh tidak terbayang aku sampai ditugaskan sejauh itu. Bagaimana aku bisa berjauhan dan beda pulau dengan Femy yang sangat aku cintai. “Mengapa tuhan menjauhkan kami”, pikirku.

Femy bangga aku menjadi seorang TNI, tetapi dia sangat sedih mendengar aku ditempatkan di Yogyakarta. Sedih takut aku kenapa-kenapa, takut aku kepincut gadis lain disana, cemas gak tau kapan bisa bertemu dan lain-lain sebagainya. Aku berusaha menghiburnya dan mengembalikan kepercayaannya. Kukatakan bahwa aku sangat menyayangi dan mencintainya, tidak ada orang lain yang dapat mengantikannya. Aku berjanji bahwa aku akan kembali padanya,  walaupun aku jauh di lain pulau tetapi hatiku selalu untuknya.

Selain Femy orang tuaku juga sangat kawatir, dia pesan agar aku gak lama-lama dinas di sana, aku dilarang pacaran atau mencari istri orang sana. Orang tuaku berharap agar aku nanti bisa menikah dengan Femy. Karena hati ibuku sudah tertambat sama Femy sebagai calon menantu kesayangannya.

Sebagai anak yang berbakti aku berusaha untuk mematuhi keinginan orang tuaku, untuk tidak berpacaran dengan gadis Yogyakarta yang notabene cantik-cantik, ramah, dan sopan. Untuk menjaga hubunganku dengan Femy kami hanya bisa berkirim surat, karena waktu itu belum ada  Handphone. Hand phone waktu itu hanya digunakan oleh orang-orang kaya dan pejabat tertentu karena dianggap barang mewah.

Setelah setahun dinas aku pulang kampung. Yang teringat olehku selain bertemu orang tua dan saudara adalah ingin mencari pujaan hati, Femy ku tersayang. Hari pertama dan kedua sampai aku istirahat  karena kecapean habis melaksanakan perjalanan darat dengan Bis yang memakan waktu sampai tiga hari. Hari ketiga aku pergi ke Baturaja kerumah orang tua Femy. Tapi sayang sudah datang jauh-jauh ternyata yang dicari tidak ada dirumah, baru kembali ke Palembang setelah menjalani cuti lebaran kuliah.

Femy yang setamat SMA melanjutkan kuliah disebuah Universitas Swasta Palembang, mengetahui kalau aku mau pulang kampong tetapi tidak tau persis kapan waktunya. Oleh karena itu ketika aku datang kerumah orang tuanya, dia tidak bisa menunggu kedatanganku.

Walaupun tidak ketemu Femy aku diterima dengan baik oleh Ibu dan kakak-kakak Femy yang juga sudah kenal dekat denganku. Setelah selesai makan dan bercerita panjang lebar aku mohon pamit untuk pulang, dan tidak lupa titip salam untuk Femy.

Dalam keadaan galau, hampa dan kecewa tidak dapat apa yang dicari aku pulang. Untuk mengobati hati aku teringat orang tua Vanny yang tinggal di kota Prabumulih. Kebetulan Kota Prabumulih  terletak antara Baturaja dan Lahat sehingga terlewati olehku sewaktu menuju Kota tempat tinggal orang tua Femy di Baturaja. Setelah bertanya-tanya akhirnya aku berhasil menemukan alamat orang tua Vanny dengan harapan agar bisa bertemu dengan Vanny.

Orang tua Vanny terkejut menyambut kedatanganku, wajah dan penampilanku sudah agak berubah. Dulunya aku hanya seorang anak sekolahan playek-pleyek jadi seorang pemuda yang gagah. Maklum di ABRI aku didik fisik dan mental sehingga postur tubuhku jadi beda dengan sebelumnya.

Setelah ngomong basa-basi dengan orang tua Vanny, aku coba mencari tahu kabar Vanny.

“Ibu, Vanny dimana kok tidak kelihatan ?” tanya ku kepada ibunya Vanny.

“Vanny sudah berangkat ke Palembang dua hari yang lalu ?” jawab ibu Vanny.

Sungguh diluar dugaan inilah jawaban yang paling tidak aku inginkan dari orang tua Vanny. Jauh-jauh mencari Femy tidak bertemu dan setelah sampai di rumah Vanny rupanya Vanny juga tidak ada dirumah.

“Kenapa ini orang-orang yang kucari ngak ada semua ?” fikirku dalam hati.

Rupanya Vanny juga kuliah di Palembang. Setelah selesai lebaran  Vanny kembali ke Palembang untuk melanjutkan kuliahnya.

Dengan perasaan kecewa aku pamit pulang. Tidak seorangpun yang aku cari bisa bertemu. Ingin rasanya aku ke menyusul Femy ke Palembang. Tapi kalau hari itu tidak mungkin karena sudah menjelang sore. Besok dan lusanya ada acara keluarga di kampung sukuran atas berhasilnya aku masuk TNI, sebagaimana yang telah diniatkan oleh orang tuaku.

Seminggu di kampung aku lewati seperti mimpi yang tidak berbekas di pagi harinya. Keinginan pulang yang mengebu untuk bertemu Femy sang pujaan hati tidak terwujud. Rasanya aku pulang dengan sia-sia dan tidak berarti. Dan tibalah saatnya aku kembali lagi ke Yagyakarta karena masa cutiku yang dah hampir habis.

Empat tahun sudah aku dinas di Yogyakarya, selama itu aku tetap berusaha untuk mematuhi nasehat orang tua bahwa aku harus mencari gadis minang sebagai calon pendamping hidup. Aku cuek kepada gadis-gadis Yogya yang cantik-cantik dan menggoda. Sementara Femy yang kuharapkan tidak berhasil aku temui sewaktu aku pulang kampong dulu. Padahal aku berusaha untuk mendekatkan lagi hubunganku yang terpisah oleh jarak dan waktu dengannya. Begitu juga alternative kedua Vanny yang kucari kerumah orang tuanya juga tidak ada.

Tidak berhasil bertemu Femy dan Vanny aku berusaha melirik mahasiswi-mahasiswi asal Padang yang kuliah di Yogyakarta. Minimal ada darah minangnya biar gak bertentangan dengan pesan orang tua. Tapi semuanya tidak berhasil dan aku tidak bisa mendekati satupun. Ada beberapa orang yang saya kenal semua dah pada punya pacar jadi aku gak enak juga, masak harus memisahkan dia dari pacarnya. Gak mau ah itu bertentangan dengan hati kecilku.

Karena kelelahan dan kurang istirahat aku sempat di rawat dirumah sakit. Hampir sebulan aku jadi pasien di RS Bethesda Yogyakarta. Dalam keadaan tidak berdaya jauh dari orang tua, untung ada adik dari temanku sebut saja namanya Selly yang selalu menjenguk dan mengurusku. Selly adalah seorang pegawai swasta di sebuah perusahaan besar di Yogyakarta setiap pulang kerja selalu dating mengunjungku ke rumah sakit. Bahkan tidak jarang jam istirahat pun disempatkannya menjegukku kalau-kalau aku membutuhkan sesuatu. Setiap ada pakaian kotorku dibawa pulang dan setelah bersih diantarkan kembali ke rumah sakit sambil menjengukku.. Bahkan setelah keluar dari rumah sakitpun aku dirawat dirumah orang tuanya, karena aku masih harus makan bubur untuk beberapa waktu.

Orang tua Selly juga sayang padaku. Dirumahnya aku ditempatkan di kamar tamu. Mamahnya yang membuatkan bubur dan mencucikan pakaianku tiap hari karena Selly pagi-pagi dah berangkat kerja. Walau tidak pernah pacaran ternyata keluarganya Selly ingin menjodohkan aku dengan Selly.

Setiap saat aku ditanya sambil bercanda oleh bibi dan pamannya, “Kapan nih jadiannya?”.

Maksudnya dia menanyakan kapan aku menikah dengan Selly.  Karena malu di desak aku hanya senyum-senyum aja, bagaimana bisa menikah pacaran aja belum.

Seiring dengan perjalanan waktu berlalu lama-lama akhirnya aku jadi suka juga sama Selly, dan nampaknya Selly juga menaruh harapan padaku. Walau tidak pernah mengucapkan kata cinta sejak itu kami sering jalan bersama layaknya seperti orang pacaran.

Mengingat keadaanku yang sudah diikat oleh keluarga Selly, aku bingung untuk menyampaikan kepada orang tuaku. Tetapi ada sedikit kebeanian karena ibuku mengetahui bahwa selama aku sakit di Yogyakarta aku dirawat oleh keluarga Selly.

Untuk memberitahukan kepada keluargaku, aku putuskan untuk mengambil cuti pulang kampung. Sebelum berangkat Selly memasangkan cincinnya kepada jariku. Karena jariku lebih besar maka cincin tersebut cuma muat di kelingkingku. Selly takut aku gak balik lagi padanya sekelbali dari kampong, makanya dia ikat aku dengan memasangkan cincinnya kepada kelingkingku.

Sesampai di kampung kuceritakan semua permasalahanku kepada keluarga besarku, terutama kedua orang tuaku. Walau dengan hati berat tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya akhirnya orang tuaku maklum dan aku direstui menikah dengan Selly. Bahkan sebagai tanda restu darinya, ibuku membelikan bahan dasar baju untuk Selly yang dititipkan kepadaku.

Tidak menunggu lama sekembali dari kampong langsung ku sampaikan kepada orang tua Selly bahwa ibuku telah menyetujui hubunganku dengan Selly. Orang tua Selly menganjurkan agar mempercepat saja perkawinan kami. Hanya pacaran beberapa bulan resmilah aku menikah dengan Selly dan dikaruniai 3 orang anak. Karena ibuku sudah tua sebagai anak laki-laki satu-satunya aku memutuskan untuk pindah ke Palembang dan ditempatkan di Staf Kodam II Sriwijaya.

Setelah pindah tugas ke Palembang aku kembali ingat masa-masa laluku. Ingat Femy kekasih hatiku yang tak dapat kulupakan saat di SMA. Ingat Vanny yang juga sempat dekat denganku sebelum aku pacaran dengan Femy. Aku mulai berusaha mencari tahu dimana keberadaan orang-orang yang pernah disinggah dihatiku dulu. Apalagi aku sama Femy gak pernah putus sehingga rasa rindu ingin bertemu sangat kuat dihatiku.

Ketika aku dapat tugas ke Baturaja, aku sangat senang. Aku berharap bisa mendapat informasi dimana Femy ataupun Vanny sekarang berada. Apakah masih di Palembang dan sekitarnya ataukah sudah merantau jauh dibawa oleh suaminya.

Aku mencari informasi dengan cara menghubungi orang-orang yang aku kenal dulu sewaktu sekolah di Baturaja. Berkat usahaku aku berhasil mendapatkan nomor handphone Vanny dari tantenya di Baturaja. Rupanya Vanny sudah menjadi dosen di sebuah Universitas Swasta di Palembang. Sedangkan Femy tidak ada kabar sama sekali dan tidak ada yang tahu, konon informasi dia menikah dengan orang Jawa dan tinggal di Pulau Jawa. Entah di kota mananya yang pasti tidak ada kudapatkan informasinya. Tetapi aku sengaja meninggalkan nomor teleponku pada orang-orang yang kenal di Baturaja. Terutama orang-orang yang kenal dengan Femy dan mengetahui hubungan kami dulu.

Berbekal nomor handphone dari tantenya, hari itu juga ku telephone Vanny.

“Hallo, ini betul Buk Vanny ?”, kataku pura-pura bertanya.

“ Iya, ini siapa ya ?” jawab Vanny balik bertanya.

“Aku temanmu masak lupa”, kataku.

Vanny bertanya lagi “Siapa ya, bingung nih gak kenal nomornya ?”.

Setelah kubilang tetangganya dulu di Baturaja, Vanny baru tahu dan menebak akulah yang menelephone.

“Salman ya ?” kata Vanny. “Iya nih pasti Salman suaranya ketahuan tu”, katanya lagi.

“Iya “, jawabku.

Akhirnya kami ngobrol panjang lebar di telepon. Kami bercerita tentang masa-masa dulu waktu di SMA dan tentang lika-liku perjalanan hidup masing-masing. Beberapa hari kemudian kami sempat bertemu pada suatu acara pesta di Lahat, waktu itu Vanny dating bersama suami dan anak-anaknya. Tetapi kami gak sempat ngomong panjang lebar karena menjaga image di depan suaminya.

Beberapa hari kemudian ada handphone ku berdering. Ketika kulihat nomornya tidak kukenal seperti nomor Simpati pulau Jawa, kota tepatnya aku tidak tahu.

“Hallo, ini pak Salman ya, masih ingat gak ini teman lama ?”, tanya suara diseberang sana.

Suaranya yang lembut sangat ku kenal walaupun sudah hampir 20 tahun tidak pernah mendengarnya lagi. Inilah suara yang kurindukan selama ini, dan kucari-cari tidak tahu dimana keberadaannya.

“Ini orang Baturaja ya ?”,tanyaku.

“Orang Baturaja mana ?”, kata orang diseberang pura-pura bertanya.

Ku bilang aja langsung, “ Femy Mustika Sari kan ?”.

Femy kaget dan heran, kenapa aku bisa langsung menebak bahwa dialah orangnya yang meneleponku. Padahal kami sudah hampir 20 tahun tidak bertemu.

“Kok langsung tau, Man ?”tanya Femy.

“Femy, Walau berapa lama pun, suaramu, wajahmu, semua tentangmu tidak akan pernah ku lupa. Karena dirimu begitu berarti bagiku. Dirimu telah menempati tempat khusus di hatiku yang tidak akan ada yang dapat menggantikanmu. Walaupun aku sudah pernah pacaran dan menikah lagi dengan orang lain kau selalu ada dihatiku, percayalah buktinya sekarang aku langsung tahu dan hapal suaramu yang dah lama hilang”, kataku kepada Femy menjelaskan.

Femy terharu mendengar ungkapanku, dia tidak menyangka aku sangat perhatian padanya. Itu semua masih membekas dan tersimpan dihati karena kami tidak pernah putus pacaran dulu. Kami hanya terpisah oleh jarak dan waktu. Aku di Yogyakarta dan Femy di Baturaja Sumatera Selatan.

Kemudian Femy pun menceritakan isi hatinya menanggapi yang kuceritakan kepadanya.

“Salman, akupun mempunyai perasaan yang sama kepadamu. Mendapat informasi kamu pulang dan mengadakan syukuran keberhasilanmu masuk tentara, aku beranikan diriku sengaja datang untuk menemuimu sendirian walaupun jarak antara Baturaja dengan Lahat tersebut sangat jauh. Aku sangat berharap kita bisa bertemu untuk mempererat hubungan asmara kita yang telah beberapa lama terpisah. Tapi apa mau dikata saat aku sampai di Lahat ternyata kamu baru berangkat ke Yogyakarta. Ini semua terjadi karena aku telat mengetahui kabar kepulanganmu. Salman mengirim surat ke Baturaja dan aku ada di Palembang sehingga aku terlambat mengetahui dan terlambat datang. Mungkin tuhan berkehendak lain tetapi kita harus tetap bersyukur karena sekarang kita bisa dipertemukan walau hanya melalui handphone”,kata Femy.

Maklum waktu itu tidak ada handphone, dan jaringan telepon juga masih jarang. Kami berkomunikasi hanya bisa melalui surat, setelah empat atau lima hari baru sampai. Femy menyuruh mengalamatkan surat kepada Toko milik tetangganya yang ada di Kota Baturaja. Sehingga surat tersebut baru bisa dibaca oleh Femy hanya bila Femy pulang ke Baturaja.

Saking kangennya bercerita panjang lebar lupa menanyakan darimana Femy dapat nomor teleponku, maka setelah itu baru kutanyakan.

“Eh, Femy dapat nomor handphone ku dari siapa, dan sekarang Femy dimana ? tanya ku.

“Aku dapat dari Santi, aku pulang sendiri aja dari Surabaya karena ada pesta salah satu familyku  di Baturaja. Secara kebetulan aku bertemu Santi yang juga hadir dipesta tersebut. Santilah yang mengasih tahu bahwa Salman mencariku dan memberikan nomor handphone mu”, Femy menjelaskan.

Kami ngobrol panjang lebar, tidak terasa waktu dua jam berlalu terasa singkat. Walau kuping sudah panas tapi karena kerinduan semua tidak dihiraukan.

Femy telah menjadi seorang pengusaha sukses di Surabaya mengelola usaha dalam bidang industry garment bersama suaminya. Suami Femy bernama Hendro adalah lelaki turunan Jawa yang lahir dan besar di Palembang. Ayahnya seorang Purnawirawan TNI yang telah menetap lama di Palembang. Dari perkawinannya dengan Hendro, Femy telah dikaruniai seorang putra semata wayang yang bernama Akbar.

Pertemuan yang tidak diduga lewat handphone tersebut memunculkan kembali rasa kangen ingin bertemu. Kembali ingat masa-masa indah yang kami jalanani bersama dulu. Akhirnya kami sepakati untuk bertemu esok harinya disuatu tempat di Prabumulih. Karena Femy untuk sementara tinggal dirumah mertuanya disebuah kota kecil di Prabumulih. Tetapi kami sengaja janjian bertemu diluar agar mertuanya tidak curiga.

Untuk memperlancar pertemuan kami supaya orang tidak curiga Santi dan salah seorang teman lamaku lainnya yang bernama Lasmi mau menemani. Santi dan Lasmi dengan rasa setiakawan jauh-jauh bersedia datang dari Baturaja ke Prabumulih untuk menemani kami.

Sebagai seorang anggota TNI yang terikat aturan dan prosedur, aku sengaja membuat surat tugas  pura-pura mengantar surat ke Bataliyon Kavaleri 5 Prabumulih. Berbekal surat tugas tersebut aku berangkat ke Prabumulih untuk mencari sang pujaan hati Femy Mustika Sari.

“Femy…Femy, walau dah jadi milik orang lain kau adalah mutiaraku yang hilang dulu Femy, aku masih sayang padamu. Ada rasa yang tertinggal dihati ini yang tidak akan pernah hilang”, gumam ku dalam hati.

Dari Kodam II Sriwijaya Palembang menuju Prabumulih sepanjang perjalanan aku terus membayangkan bagaimana wajah Femy sekarang. Apakah tambah langsing, gendut, tinggi besar atau bagaimana. Pasti sekarang tinggi besar pikirku. Karena dulu waktu SMA postur tubuh Femy termasuk yang agak besar dibanding teman-teman lainnya.

Sekitar setengah jam menunggu ditempat yang dijanjikan, tiba-tiba turun seorang perempuan cantik bertubuh mungil dan imut-imut dari sebuah angkutan kota. Demi tuhan aku tidak percaya kalau yang turun tersebut adalah Femy yang kunanti-nanti. Kulitnya bersih dan mulus, tubuhnya yang singset dan berisi, wajahnya tambah cantik dihiasi dengan kacamata yang menambah elegant penampilannya.

Dalam keadaan setengah sadar aku melambaikan tangan memberi isarat bahwa aku memanggilnya. Aku seolah terbius dengan wajah melongo memandang Femy yang berjalan kearahku sejak turun dari angkot dengan jarak sekitar dua puluh meter.

“Hallo Femy, masuklah!”, kataku menyuruh Femy masuk kedalam mobilku.

“Hallo juga Salman, apa kabar ?”, kata Femy setelah didalam mobil.

Setelah bersalaman kami pergi cari tempat yang enak buat ngobrol. Femy mengusulkan ke sebuah Rumah Makan Padang yang cukup terkenal di Palembang letaknya sekitar 10 km dari Prabumulih menuju Lahat. Santi bersama Lasmi dari Baturaja kami suruh duluan ke rumah makan tersebut dan agar menunggu disana.

Aku mengemudikan mobil dengan santai menuju rumah makan tersebut, agar lebih lambat sampai ditempat tujuan karena aku ingin berlama-lama berduaan dengan Femy. Selama diperjalanan kami bercanda mengingat masa-masa indah kami berdua dulu. Sesekali aku mencubit, dan meremas tangan Femy karena saking gemes dan menyalurkan hasrat hatiku yang rindu berat kepadanya. Walau sedikit kaget karena baru bertemu setelah sekian lama berpisah Femy tidak marah atas kenakalan tanganku kepadanya.

Setiba di rumah makan tersebut, aku menyalami Santi dan Lasmi. Lasmi adalah teman SMP dan SMA ku sewaktu sekolah di Baturaja yang juga baru pulang dari Bogor dalam rangka menghadiri pesta yang sama dengan Femy. Sambil makan kami bercanda dan bercerita-cerita tentang lika-liku perjalanan hidup masing-masing setelah tamat SMA. Aku sengaja duduk dekat Femy agar bisa selalu memandangi wajahnya, memegang dan meremas tangannya karena gemes. Femy berteriak-teriak manja karena perbuatanku.

“Jangan, jangaaaan Man, sakiiit!!”katanya.

Mungkin karena malu diliatin oleh Santi dan Lasmi. Atau mungkin karena malu diliatin pengunjung lainnya yang sedang ramai di rumah makan tersebut.

Selesai makan kami berangkat ke Lahat kerumah orang tuaku, karena Femy kangen dah lama tidak bertemu dengan ibuku. Diperjalanan kami membeli makanan kas daerah untuk dibawa Femy dan Lasmi sebagai oleh-oleh pulang ke Surabaya dan Bogor.

Tidak berlama-lama di rumah orang tuaku karena hari sudah sore dan tidak enak sama mertuanya, kami pamit sama ibu untuk kembali ke Prabumulih. Sebelum nya kembali ke Prabumulih aku mengantar Santi dan Lasmi ke Baturaja.

Perjalanan dari Baturaja ke Prabumulih dalam waktu normal satu setengah jam ku tempuh dalam dua setengah jam. Sengaja kuperlambat kecepatan mobilku supaya lebih bisa berlama-lama berduaan dengan Femy. Setengah perjalanan ku lewati hari sudang mulai gelap ditandai dengan suara azan magrib berkumandang di mesjid-mesjid yang kulalui. Hujan lebatpun turun menambah syahdunya perjalanan.

Di suatu tempat peristirahatan sekitar 5 km menjelang Kota Prabumulih, kunyalakan lampu sein kiri dengan maksud untuk berhenti sejenak.

“Kita berhenti sebentar ya?”, sambil menunggu Bang Romi kataku kepada Femy.

“Ya, boleh”, jawab Femy.

Sebenarnya Femy sangat was-was bagaimana menjelaskan kepada mertuanya nanti sesampai dirumah. Kalau kuantar sendiri mertuanya nanti bisa curiga. Pulang sendiri malam-malam gak enak juga. Untung hari itu abang Femy yang bernama Romi sore itu akan ke Prabumulih. Bang Romi bersama keluarganya akan berangkat ke Surabaya bersama-sama dengan Femy dari rumah mertua Femy di Prabumulih. Malam itu mereka menginap dirumah orang mertua Femy. Tetapi sewaktu di telephon oleh Femy, abangnya mengaku baru berangkat dari Baturaja. Padahal waktu itu sudah jam 18.30 Wib, paling bisa sampai di Prabumulih sekitar pukul 21.30 Wib.

Dihiasi cahaya remang-remang lampu jalan kupandangi wajah Femy yang lembut dan mempesona. “Kapan aku lagi bisa bertemu dengan mu Femy”, bisik ku dalam hati. Femy esok lusanya akan berangkat kembali ke Surabaya yang entah kapan lagi bisa pulang ke Palembang. Kalau pun pulang belum tentu bisa bertemu.

Kupandangi terus menerus membuat Femy tersipu malu, dan wajahnya memerah. Tiba-tiba kuberanikan diri minta sesuatu kepadanya.

“Femy, bolehkah aku minta sesuatu padamu ?”, tanyaku kepada Femy.

“Apakah itu man ?”, jawab Femy balik bertanya. “Untukmu  apa yang tidak akan kuberikan”, lanjut Femy.

“Aku ingin memeluk dan mencium sayang keningmu sebelum kita berpisah sebagai kenangan yang akan ku ingat bila aku merindukanmu”, jelasku.

Mendengar penuturanku Femy kontan kaget, tidak menduga bahwa aku akan mengatakan itu. Tanpa menunggu jawaban aku langsung mendekatkan tubuhku dan memeluk Femy. Kucium mesra kening dan pipinya.

“Aku sayang kamu Femy, tidak ada yang dapat menggantikanmu tempatmu dihatiku”, bisikku ditelinga Femy.

“Aku pun sayang kamu Salman, jauh-jauh ku usahakan untuk bertemu denganmu walau aku menghadapi resiko gak enak dengan mertuaku pergi sampai pulang malam”, jawab Femy.

Selama menunggu Bang Romi datang, aku dan Femy makan malam disebuah pondok lesehan tidak berapa jauh dari tempat peristirahatan tersebut. Femy sudah memberitahukan kepada Bang Romi bahwa kami menunggu di pondok lesehan tersebut. Aku sangat bersyukur kepada tuhan memberi waktu yang panjang kepada kami untuk berlama-lama. Berawal dari Femy yang mendapat nomor handphone ku secara tidak terduga. Sehingga kisah asmara lama yang hilang kembali bersemi dan datang lagi.

Hari-hari kulewati penuh harap dan rasa rindu ingin kembali mengulangi kisah lama. Tapi semua itu tidak mungkin karena posisi kami dah jauh berbeda. Aku dah punya anak dan istri sementara femy juga dah punya anak dan suami yang sangat dicintainya.

Namun entah mengapa gejolak hati ini begitu mengebu. Rasa rindu ingin bertemu Setiap hari setelah kepulangan Femy ke Surabaya mengakibatkan kami tambah dekat. Setiap ada kesempatan kami sering telepon-teleponan, walaupun berjauhan kami merasa dekat dan saling berbagi.

.

Tentang Marjohan

Seorang anak desa dengan segala lika - liku kehidupan dan cobaan...
Pos ini dipublikasikan di Cerpen. Tandai permalink.

2 Balasan ke MUTIARAKU YANG HILANG DULU(RMJ)

  1. faiz berkata:

    aduh.. selingkuhan ni..yaki deh , lakonnya ndak bakal bahagia. .

  2. andini berkata:

    Bagus juga ceritanya, kisah asmara yang hilang sekian lama bersemi lagi setelah bertemu, walau keadaan sudah lain karena semua dah memiliki anak dan istri/suami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s