PDIKM dan Perkampungan Minang Sebelum Jadi Minang Fantasi

TURUN dari pesawat di Bandara Tabing, Padang, Rabu (19/2) lalu, tiga orang pelancong asing dengan seorang perempuan muda Indonesia, buru-buru menghampiri taksi. “Ke Bukittinggi, bisa berangkat?” kata si perempuan. “Bisa,tanpa argo. Mau pakai AC atau tidak? Tanpa AC seratus lima puluh ribu. Pakai AC seratus tujuh puluh lima ribu (Rp175.000-Red),” jawab sopir enteng. Si perempuan tampak agak bingung. Karena tak ada pilihan lain, akhirnya merekaberangkat.

TAK lama kemudian, seorang perempuan cantik, berkaca mata hitam, sembari menenteng sebuah koper pakaian, juga menghampiri taksi. Lagi-lagi, tujuan Bukittinggi. Terjadi tawar-menawar ongkos (karena untuk tujuan luar kota taksi tidak pakai argo), terakhir harga yang disepakati Rp 135.000.

Begitulah pelayanan di Bandara Tabing. Tetapi, tulisan ini tak hendak mempersoalkan itu, kecuali menawarkan tujuan wisata lain. Karena, kenyataan itu sekilas menggambarkan bahwa keberadaan Kota Bukittinggi, sekitar 92 kilometer utara Padang, sepertinya kota tujuan wisata satu-satunya yang layak dikunjungi. Setidak-tidaknya juga menggambarkan bahwa Kota Padang sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), tidak menarik bagi pelancong, kecuali hanya sebagai pintu gerbang bagi pelancong yang hendak ke Bukittinggi.

Bukittinggi sebagai daerah tujuan wisata dengan trade mark-nya Jam Gadang, memang dikenal menawarkan banyak hal. Dari wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, wisata belanja, wisata makanan, hingga wisata konvensi.

Ada satu hal yang tidak ada di Bukittinggi dan juga kota-kota lainnya di Sumbar, tetapi ada di Padang Panjang. Yaitu obyek wisata Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) dan Perkampungan Minangkabau.

DARI Kota Padang ke Kota Bukittinggi pelancong cenderung memilih jarak terpendek, yakni melewati kawasan Malibou Anai, air terjun Lembah Anai, dan Kota Padang Panjang. Sangat jarang, bahkan hampir tak pernah, sopir taksi atau biro perjalanan yang menawarkan rute wisata yang cukup panjang, dengan pemandangan alam yang indah dan menarik di sepanjang jalan, yakni memutar melewati Padang Pariaman, Lubuk Basung, Danau Maninjau dengan Kelok 44, Kotogadang, dan Bukittinggi.

Memasuki Kota Padang Panjang setelah melewati jalan berkelok-kelok dan mendaki di Silaiang–kawasan rawan kecelakaan lalu-lintas-di sebelah kanan akan terlihat bangunan bagonjong yang agak mencolok.

“Wah, bangunan bagonjong apa itu?” tanya seorang pelancong domestik asal Jakarta yang belakangan diketahui bernama Julia. Ia melihat sambil lalu bangunan berarsitektur bagonjong tersebut. “PDIKM dan Perkampungan Minangkabau sebuah obyek wisata yang tiada duanya. Tidak akan ditemui di kota mana pun di Sumatera Barat, juga tidak di Bukittinggi,” jawab Kompas. “Berminat mampir?”

Julia lantas berucap, “Tanggung. Agenda wisata saya ke Bukittinggi. Lain kali saja,” katanya.

Begitulah. Sebagai kota kecil yang luasnya hanya 23 kilometer persegi dan berpenduduk 40.466 jiwa (sensus penduduk tahun 2000), di mata pelancong Padang Panjang terkesan sebagai kota “sambil lalu”, kota yang hanya dilewati atau terlihat sebentar di jalur jalan Trans Sumatera Padang-Bukittinggi. Padahal, kalau didukung dengan promosi yang gencar, Padang Panjang bisa lebih terkenal.

Bagaimana tidak, di kota bersih berhawa sejuk dan bercurah hujan tinggi (dikenal sebagai kota hujan) dengan rata-rata 3.259 mm per tahun ini terdapat banyak sekolah bernuansa Islam yang sudah terkenal sejak zaman penjajahan. Terkenalnya tidak hanya di Nusantara, tetapi juga di mancanegara. Seperti Diniyah Puteri, Thawalib, KaumanMuhammadiyah, Thawalib Gunung, dan Madrasah Irsyadin Nas. Banyak tokoh ulama dan tokoh nasional yang mendapatkan pendidikan dari sini, sehingga Padang Panjang dulu dikenal sebagai pusat pergerakan dan pemikiran Islam yang disegani dan basis pendidikan Islam yang terkemuka di Indonesia.

Presiden dan pejabat negara lainnya yang berkunjung ke Sumbar biasanya tak melewatkan kesempatan untuk berkunjung ke Kota Padang Panjang, kota yang wilayahnya berada di sekitar tiga gunung api aktif, yaitu Gunung Merapi (2.891 m), Gunung Singgalang (2.887 m), dan Gunung Tandikek (2.438 m). Begitu juga para tamu asing, termasuk antara lain Ratu Beatrix dari Belanda.

Pelancong asing dan pelancong domestik tak banyak tahu soal potensi wisata yang ada di Padang Panjang, lebih-lebih potensi yang ada di PDIKM, yang menambah keunggulan kota kecil ini sejak 17 Desember 1990. Hanya segelintir masyarakat yang tahu, informasinya pun dari mulut ke mulut.

Ratu Beatrix dan keluarga untuk mengakhiri kunjungan 10 harinya ke Indonesia, Agustus 1996, menyempatkan diri secara khusus berkunjung ke PDIKM. Melihat potensi dan aset yang ada di PDIKM, serta menyaksikan pertunjukan tarian dan musik tradisional Minang. Ketika itu Ratu Beatrix menyatakan sangat terkesan.

“Ratu Beatrix berkunjung ke PDIKM di luar protokoler. Ia sangat terkesan dengan upaya yang dilakukan PDIKM. Begitu juga dengan Presiden Megawati, berkunjung ke PDIKM juga di luar jadwal protokoler,” kata Direktur Eksekutif PDIKM Ir Dedi A Navis.

Menurut Dedi, Megawati tertarik berkunjung ke PDIKM karena di PDIKM ditemukan dokumen asli dari ayahandanya, Soekarno, yang ketika itu Presiden RI. Dalam dokumen itu Soekarno menyatakan tidak akan menyerah kepada Belanda. Indonesia harus merdeka.

Kalau anda berkunjung ke Sumbar atau ingin ke Bukittinggi, tak ada ruginya merencanakan singgah di Kota Padang Panjang yang hanya berjarak sekitar 20 km menjelang Kota Bukittinggi. Sekurang-kurangnya Anda berkunjung ke PDIKM dan Perkampungan Minang, setelah itu lanjutkanlah perjalanan ke Bukittinggi.

Memasuki areal PDIKM yang luasnya dua hektar, Anda akan terpesona dengan taman bunga berwawasan lingkungan, yang ditata dengan cara menerapkan pola tradisional, menggabungkan sistem teras dan penanaman berlajur menurut garis kontur. Terdapat ratusan koleksi tanaman bunga. Di areal ini, kalau nasib Anda lagi mujur, bisa menyaksikan mekarnya bunga bangkai dan bunga raflesia, jenis bunga langka yang sudah berkali-kali muncul dari dasar tanah disamping kanan bangunan induk PDIKM.

Kemudian Anda akan melihat bangunan fisik, antara lain rumah gadang yang merupakan bangunan induk. Terdapat empat bangunan rangkiang, yang arsitekturnya masih murni, yakni atapnya terbuat dari ijuk. Ada mushala,pesanggrahan untuk tempat menginap, dan rumah tempat tinggal. Semuanya penuh dengan ukiran khas Minangkabau yang mengandung banyak makna dan kaya filosofi hidup orang Minang.

Bangunan induk berfungsi sebagai tempat menyimpan dan ruang pameran dokumen dan alat tradisional Minangkabau.Lantai I dan II berfungsi sebagai tempat resepsi pernikahan yang lengkap dengan pelaminan berbagai jenis pakaian adat pengantin dari seluruh daerah di Sumbar.

Dedi A Navis mengakui, koleksi yang ada masih terbatas. Buku, misalnya, baru ada 246 judul buku baru dan lama hasil reproduksi dari buku lama berbahasa Belanda, Indonesia, Minangkabau, maupun tulisan Arab Melayu. Mikro film 367,foto 367. Beberapa di antaranya kumpulan foto masa lalu dan foto peninggalan sejarah; rumah, alat pertanian, alat perang, bentuk-bentuk pakaian, dan alat musik tradisi. Ada juga kliping. Untuk menambah koleksi, menurut Dedi,pihaknya berharap ada bantuan dari donatur, para penerbit, dan pimpinan media massa.

Menurut salah seorang penggagas, budayawan dan sastrawan AA Navis, PDIKM akan mendokumentasikan segala sesuatu literatur tentang Minangkabau, baik yang ditulis oleh orang Sumbar maupun dari luar Sumbar. Juga karya-karya yang ditulis orang Minang tentang apa saja. Kegiatan utama selain mengumpulkan literatur juga memelihara benda benda peninggalan sejarah, yang dapat digunakan sebagai bahan informasi tentang sejarah Minangkabau.

“Pokoknya, kalau ingin tahu tentang Minangkabau, tak perlulah jauh-jauh pergi ke Belanda, cukup melakukan studi ke PDIKM di Padang Panjang. PDIKM sebagai aset kebudayaan Minangkabau dan bahkan menjadi aset nasional serta juga aset internasional, memerlukan bantuan semua pihak untuk penyelenggaraan dan pengembangannya,” kata Navis yang kini kondisi kesehatannya agak menurun.

Bila sudah di PDIKM, kita bisa lupa waktu karena asyiknya menikmati beragam koleksi. Tetapi perlu diingat, PDIKM hanya dibuka pukul 09.00 sampai pukul 17.00. Meski kurang promosi, jumlah kunjungan ke PDIKM berkisar 20.000 sampai 50.000 orang per tahun.

Mulai Maret 2003, PDIKM secara berkala menerbitkan jurnal kebudayaan Si Mandarang untuk menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan Minangkabau. Kemudian, menurut Dedi, kini juga sudah diprogram membuka situs di Internet. Untuk ini, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, perlu kerja keras dan tenaga profesional. Bila ini terwujud,Keberadaan PDIKM dengan segala dokumentasi yang dimilikinya bisa diakses melalui Internet.

Puas di PDIKM, Anda bisa menikmati Perkampungan Minangkabau yang berlokasi di belakang bangunan utama PDIKM.Perkampungan Minangkabau itu boleh dikata “Taman Mininya” Sumatera Barat. Berbagai bangunan rumah adat khas masing-masing kota/kabupaten terdapat di situ.

Perkampungan Minangkabau merupakan obyek wisata terpisah dari PDIKM, namun ia merupakan perwujudan/bentuk nyata dari literatur yang ada di PDIKM. Sayang, oleh Pemerintah Kota Padang Panjang dan juga Pemerintah Provinsi Sumbar, Perkampungan Minangkabau ini tidak dikelola secara maksimal.

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0303/22/Wisata/143042.htm

Tentang Marjohan

Seorang anak desa dengan segala lika - liku kehidupan dan cobaan...
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s