5. KEMARAHANKU ADALAH PENYESALANKU

Selesai sholat magrib adalah jam belajar bagi anak-anak Martin. Dari mulai azhan magrib berkumandang televisi harus dimatikan. Martin dan anak-anak sholat berjamaah bersama. Selesai sholat anak-anak siap untuk belajar dan mengambil buku masing-masing. Sebagai orang tua tunggal Martin bertindak sebagai guru prifat untuk anak-anaknya.

Dalam urusan pelajaran Martin sangat keras mendidik anak-anaknya. Mungkin karena sifatnya dulu waktu sekolah adalah seorang anak yang pintar dan kutu buku sehingga setiap menerima rapor selalu juara kelas. Sampai sekarang walau sudah hampir dua puluh tahun yang lalu semua tugas PR anaknya yang paling besar yang duduk dibangku SMP kelas 1 bisa dikuasainya. Marlinda Santi sangat senang punya papah yang bisa sekaligus sebagai guru frivatnya dirumah. Setiap ada kesulitan didalam tugas PR nya, sang papah siap dan bisa membantunya.

Martin yang pintar dan cepat menangkap pelajaran waktu sekolah bila telah menerangkan dua, tiga kali kepada sang anak, tetapi masih belum ngerti juga membuat Martin gampang marah dan mengomeli anaknya.

“Masak belum mengerti juga sih, udah diterangkan berulang-ulang, makanya waktu belajar pikirkan pelajaran donk, jangan pikirannya main aja !’ kata Martin kalau udah kesal.

Anak-anak langsung sedih dan tidak jarang sampai menangis. Sehingga tujuan Martin tadinya ingin anaknya pintar cepat mengerti malah jadi nangis dan terganggu belajarnya.

Melihat itu akhirnya Martin merasa bersalah sendiri, apalagi ingat anaknya udah tidak punya ibu. Dalam hati Martin bergumam, “ Astagfirruhlah hal a’zim, mengapa aku kasar kali memarahi anak-anak, kasihan anak-anakku jadi sedih dan menangis, apalagi dia sudah tidak punya ibu ”.

Akhirnya Martin pun meminta maaf sama anak-anaknya. “Maafkan papah ya, papah sangat menyayangimu dan tidak ingin menyakitimu. Semua itu papah lakukan karena papah ingin anak papah jadi anak yang pintar berguna bagi bangsa dan negaranya serta berbhakti kepada orang tua…., sekali lagi maafkan papah !” kata Martin sambil merangkul anak-anaknya. Tidak jarang air mata Martin pun ikut menetes membasahi pipinya. Dalam hati Martinpun berjanji untuk tidak memarahi anaknya lagi.

“Oh tuhan berilah aku kesabaran dan kekuatan dalam mendidik anak-anakku, aku tidak ingin memarahinya bila itu tidak perlu sekali karena kemarahanku adalah penyesalanku ” kata jeritan hati Martin.

Tentang Marjohan

Seorang anak desa dengan segala lika - liku kehidupan dan cobaan...
Pos ini dipublikasikan di Cerpen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s