4. ANAKKU BUTUH FIGUR SEORANG IBU

Pagi itu Martin bersama anak-anaknya ikut acara gerak jalan santai diadakan oleh pemerintah kota dalam rangka memperingati hari anti narkoba se dunia. Pukul 06.00 wib peserta sudah ramai berkumpul di depan balai kota lama, star dimulai jam 07.00 yang dilepas oleh Bapak Wali Kota selaku Ketua Badan Koordinasi Anti Narkoba untuk tingkat Kota.

Ketika Martin mau mendaftar anak-anak disuruh menunggu agar tidak ikut ketempat pendaftaran supaya tidak ikut berdesakan. Sewaktu membaca persyaratan calon peserta Martin jadi kaget, sesuai dengan tema acara “Gerak Jalan Santai Keluarga Anti Narkoba” dimana calon peserta harus berupa keluarga lengkap yaitu ada Bapak, Ibu dan anak. Martin tidak tahu bagaimana mau menjelaskan kepada anak – anaknya. Sedangkan anak-anaknya ingin sekali ikut kegiatan tersebut. Dakam hati dia bergumam, “Oh tuhan, berilah hamba – Mu ini petunjuk, anak-anakku ingin ikut gerak jalan santai ini, tapi ibu dari anaku telah Engkau ambil sehingga keluarga kami tidak lengkap, apakah yang harus hamba lakukan ya Allah…supaya anak-anakku tidak sedih dan kecewa”. Beberapa saat dia tertegun memikirkan jalan keluar dari kesulitan tersebut.

Rupanya doa Martin di kabulkan oleh tuhan, didepan Martin ada seorang perempuan berpakaian kaos olah raga yang tak lain masih sepupunya bernama Fitri.

“Hai..Fitriii !’’ Martin menyapa setengah berteriak.

Fitri yang waktu itu belum melihat bahwa ada Martin didepannya. Setelah melihat ke arah Martin, “Abang.. lagi ngapain, mana anak-anak?”.

“Tadinya mau ikut acara gerak jalan santai, tuh anak-anak menunggu disitu”, jawab Martin sambil menunjuk ke sisi lapangan.

“Lalu kenapa ?“ tanya Fitri melanjutkan.
“Nggak bisa karena syarat peserta harus keluarga lengkap yaitu Ibu, ayah dan anak, sedangkan kamu tahu sendiri bagaimana keadaan keluargaku”. Jawab Martin sambil tertunduk. “Aku bingung Fit, anak-anak pingin ikut, harus bagaimana aku menjelakannya supaya anak-anak tidak sedih” Martin melanjutkan.
“Udah aja Bang, biar aku aja ganti ibunya Abang daftar aja, lagi pula aku juga pingin ikut !” usul Fitri.
“Syukurlah kalau begitu biar Abang daftar dulu, kamu temui anak-anak disitu!” kata Martin sambil pergi ketempat pendaftaran.

Fitri adalah seorang dosen disebuah Universitas terkenal di Kota Padang. Dia sudah kenal dan dekat juga dengan anak-anak Martin. Waktu itu Fitri sedang mengikuti seminar di kota tempat Martin bertugas dan tinggal bersama anak-anaknya.

Setelah sampai di dekat anak-anak Martin.
“Hallo semua”, fitri menyapa.
“Eh..tantee”. kata anak-anak spontan sambil menyalami Fitri.
“Tante mau ikut gerak jalan santai juga ya” tanya anak-anak Martin.
“Iya, boleh tante ikut gabung kalian, tante sendiri nih ? tanya Fitri sambil basa-basi sama anak-anakl.
“Mau, mau sekali tante’, jawab anak-anak kompak.

Hari itu mereka jadi ikut gerak jalan santai, sambil bercanda tawa, anak-anak senang karena ada tantenya, seolah-olah manja sama seperti ke ibu kandungnya. Habis sama siapa lagi dia mau bermanja-manja karena ibunya sudah meninggal. Fitri sangat menyayangi anak-anak Martin. Walaupun tidak menang dalam acara tersebut, bagi anak-anak itulah hari yang paling bahagia. Hari-harinya yang selama ini dilewati dengan kesedihan semenjak ibunya meninggal jadi terlupakan dan senang kembali. Anak-anak bisa mencurahkan segala isi hatinya sama Fitri, dan Fitri juga pandai mengambil hati anak-anak sebagai audien yang baik menerima keluhan anak – anak serta sesekali menghiur dengan kata – kata yang manis dengan jiwa keibuannya.

Tetapi disaat malam tiba kesepian dan kehangatan yang dirasakan dari pagi sampai sore kembali hilang bersama dengan kepergian sang tante yang pulang kepenginapannya. Hari itu ada lah hari terakhir Fitri melaksanakan seminar di kota itu, Senin pagi dia sudah kembali ke Padang untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai dosen.

Anak-anak kembali kehilangan tempat mengadu dan tempat bermanja serta berkeluh kesah. Dia membutuhkan figur seorang ibu yang bisa mendampinginya serta mau mendengarkan celotehan dan ungkapan keinginannya. Kepada bapaknya anak-anak kurang terbuka, mungkin mereka khawatir kalau semua itu akan membuat bapaknya tambah sedih. Melihat itu Martin jadi terharu, batinnya menjerit menahan kesedihan.

“Oh tuhan anakku membutuhkan figur seorang ibu, sebagai pengganti ibunya yang telah tiada, tidak mungkin aku menyuruh Fitri tetap disini menemani anak-anakku karena dia juga punya tugas sebagai seorang dosen dan sebagai seorang ibu untuk anak-anaknya”, jeritan Martin dalam hatinya.

“Apakah ada orang lain yang mau menerima dan menyayangi anakku seperti menyayangi anak kandungnya sendiri, yang bisa diterima juga oleh anakku Ya Allah,” doa Martin dalam hatinya.

Melihat betapa senang anak-anaknya dengan kehadiran tantenya yang juga sangat menyayanggi anak-anak Martin, maka Martin sangat berharap dan berdoa semoga tuhan menghadirkan sosok seorang ibu yang bisa menerima dan menyayangi anaknya seperti anak kandung sendiri dan dapat pula diterima dan disayangi oleh anak-anaknya.

Tentang Marjohan

Seorang anak desa dengan segala lika - liku kehidupan dan cobaan...
Pos ini dipublikasikan di Cerpen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s