2. KEPERGIANMU ADALAH DERITAKU

Di tepi kolam ikan dibelakang rumah dinas salah satu instansi pemerintah yang bertugas dibidang pelayanan masyarakat di kota itu, duduk seorang laki-laki diatas sebuah kursi bambu yang warnanya sudah memudar karena dimakan usia. Pandangannya tertuju kedalam kolam itu sambil sekali – kali tangannya terayun lemah melemparkan butiran-butiran kecil yang tak lain adalah makanan ikan-ikan hias berwarna warni yang sedang berebut makan didalam kolam tersebut. Wajahnya murung diliputi kesedihan, matanya sembab dan agak kemerahan, pipinya terlihat basah karena butiran air mata yang terus meleleh dari kelopak matanya, yang memperjelas bahwa dia sedang diliputi kesedihan yang mendalam.

Dia adalah Martin seorang duda dengan empat orang anak yang baru saja ditinggal mati oleh istri yang sangat dicintainya. Istri Martin meninggal akibat pendarahan saat usia kandungannya baru mencapai delapan bulan. Kehamilannya bermasalah karena posisi placenta berada dibawah dan menurut ahli medis sangat rawan terjadi pendarahan.

Sesuai anjuran dokter karena mengalami pendarahan hebat istri Martin harus menjalani operasi cesar untuk proses melahirkan. Sekitar satu jam setelah masuk ruang operasi lahirlah seorang bayi perempuan mungil yang kemudian diberi nama Marcellin. Tetapi nasib malang bagi Martin, setelah dibius untuk operasi cesar, istri yang dicintainya tidak pernah siuman lagi sampai akhirnya meninggal sekitar empat jam setelah operasi.

Semenjak kepergian istrinya hari – hari dilewati Martin dengan hampa. Hampir sebulan setelah kejadian itu Martin tidak masuk – masuk kekantor. Untung atasannya bijaksana dan memberi kesempatan kepada Martin untuk lebih dekat dengan anak-anaknya beberapa waktu. Serta kemudian Martin dipindah tugaskan kekantor cabang yang letaknya dekat dengan rumah dinas tempat Martin tinggal bersama anak-anaknya, sehingga Martin lebih mudah untuk memantau dan melihat anak-anaknya apabila ada sesuatu.

Disaat lagi sendiri bila ingat nasib anaknya yang masih kecil-kecil harus hidup tanpa kehadiran seorang ibu untuk menimang dan mengasuhnya membuat Martin selalu menangis dan tidak kuat untuk menahan kesedihan.

Suatu hari sewaktu mereka pergi ketempat rekreasi, anak ketiganya yang baru berumur 5 tahun berkata “Pah lihat anak itu main sama mamah dan papahnya, mereka senang sekali kayaknya Pah ya , coba kalau kita masih punya Mamah”. Mendegar itu Martin langsung lemas rasanya lutut tidak kuat untuk menyangga tubuhnya berdiri, tetapi Martin berusaha untuk tetap keliatan tegar dan menghibur anak-anak dengan merangkulnya sambil berkata ”Sayang, jangan sedih kan masih ada papah, kita semua sayang mamah, kita harus selalu mendoakan agar mamah diterima disi-NYA, mamah kita ada disorga, kalau kita semua rajin sholat, dan selalu berdoa, maka kita akan bertemu dengan mamah nanti di sorga, udah ya jangan sedih lagi”.

Walaupun Martin berusaha tegar air matanya tetap meleleh, dan Martin berusaha untuk cepat menyeka agar tidak keliatan menangis Tetapi salah seorang anaknya sempat melihat dan berkata “Papah menangis ya, kok ada air matanya ? Martin berusaha mengelak “ Nggak mata papah kena debu” jawab Martin sambil kembali membersihkan air matanya. Martin cepat-cepat mengalihkan perhatian anaknya sambil berkata, “Ayo kita berenang !”, sambil mengajak anak-anaknya berlari ke arah kolam renang. Dan kemudian mereka berenang bersama, sambil canda tawa, sehingga kesedihan hatinya terlupkan untuk sementara.

Sewaktu istrinya masih ada keluarga Martin selalu ceria penuh canda tawa. Setiap hari libur Martin bersama istri dan anak-anaknya pergi wisata ketempat-tempat rekreasi. Hampir semua tempat rekreasi di propinsi itu telah dikunjungi Martin bersama keluarganya. Kalau tidak pergi rekreasi hari Minggu pagi atau Minggu sore mereka pergi jalan santai atau olah raga bersama di Lapangan Wira Braja sebuah sarana olah raga di kota tersebut.

Betapapun sedih dan pilunya hati Martin, di depan anak-anak dia selalu berusaha tegar dan ceria supaya anak-anaknya tidak ikut larut dalam kesedihan. Anak-anak adalah motipasi Martin sebagai penambah kekuatan untuk tetap bisa tegar. Kebahagiaan anak-anak adalah segalanya bagi Martin, dalam hati Martin berjanji untuk tidak akan pernah menyakiti hati anak-anaknya.

Tentang Marjohan

Seorang anak desa dengan segala lika - liku kehidupan dan cobaan...
Pos ini dipublikasikan di Cerpen. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s